Press "Enter" to skip to content

Saling Bantah, Data Corona Pemprov Jatim VS Pemkot

Kisah perseteruan saling bantah data Corona antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kota Surabaya mencuri perhatian publik akhir-akhir ini.

Bak seperti sinetron, kisah saling bantah ini sudah memasuki episode ketiga. Seakan konflik saling bantah pun makin memanas.

KLASTER SAMPOERNA

Bagian pertama yakni soal saling bantah klaster pabrik rokok Sampoerna.
Seperti diketahui, pabrik rokok Sampoerna dinyatakan Pemprov Jatim sebagai klaster baru. Dimana di pabrik rokok itu, karyawannya ada yang meninggal karena terinfeksi Corona. Setelah hasil tes Swab keluar, puluhan karyawannya positif Corona.

Walikota Surabaya Risma Triharini pun mengelak jika pabrik rokok di Surabaya ini dikatakan sebagai klaster baru Corona.

“Sampoerna itu bukan klaster baru, karena di Sampoerna itu sudah ditemukan klaster lain,” kata Risma.

Akibat makin banyaknya karyawan pabrik rokok Sampoerna yang terpapar Corona setelah tes swab keluar, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menuding Pemkot Surabaya lambat merespon.

“Jadi ini sepertinya agak terlambat responsnya. Manajemen sampaikan bahwa tanggal 14 April mereka sudah melaporkan hal ini ke Dinkes Surabaya terkait kasus di pabrik itu,” tegas Khofifah.

Tak terima dinilai lambat,
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, M Fikser mengklaim pihaknya tak pernah terlambat soal menangani kasus pabrik rokok Sampoerna tersebut.

“Gugus Tugas Penangangan Covid-19 Surabaya, tak pernah terlambat dalam menangani kasus pandemi ini,” ujarnya mengelak.

Dia mengaku bahwa pihaknya yang telah memanggil manajemen Sampoerna. Bukanlah perusahaan yang melaporkan.

“Apa yang disampaikan Gubernur, bahwa tanggal 14 ada laporan itu keliru,” banyak Fikser.

PASIEN DI ‘PINGPONG’

Di bagian kedua ini, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini kembali kesal bahkan sempat marah mendengar pasien positif asli warga Surabaya tak mendapat perawatan di rumah sakit Surabaya.

Baca juga  IDI Jatim Keluhkan Lambatnya Pencairan Insentif Tenaga Medis

“Masa di kota sendiri enggak dapat tempat perawatan. Contohnya, di RS Soewandhi, dipenuhi pasien dari luar kota, semuanya dirujuk ke Surabaya. Sementara, pasien asal Surabaya malah tidak dapat tempat,” ujarnya, Senin (11/5/2020).

Risma menjelaskan, jika pasien dari luar kota yang datang ke Surabaya, mencapai 50 persen dari kapasitas rumah sakit.

“Kalau hitungan saya sampai 50 persen. Kalau dia OTG dia kemana-mana kan kita juga berat. Jadi kita sampaikan seperti itu,” sambungnya.

Risma meminta agar pasien dengan gejala ringan atau ODP dari daerah lain sebisa mungkin tidak dirujuk ke Surabaya. Terlebih lagi jika ada fasilitas rumah sakit di kota atau kabupaten tempat tinggal pasien.

“Jadi nggak semua orang masuk terus diterima. Padahal protokolnya kan harus diikuti. Kalau sedang-sedang saja kenapa harus dirujuk di rumah sakit Surabaya,” tegasnya.

Ketua Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi) Jatim dr. Dodo Anondo mengakui kebenaran kabar tersebut.

“Masalahnya, bebannya memang dari luar kota, memang agak sulit menanganinya. Terus terang kita tidak bisa menolak pasien, makanya nanti kita akan buat polanya,” kata dr Dodo.

Mendengar kabar ini, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menegaskan agar pimpinan daerah tidak
“pingpong” dalam menangani warga yang datang ke wilayahnya agar terhindar dari Covid-19.

“Kita upayakan agar tidak terjadi pingpong antardaerah di mana ada satu daerah yang telah menurun, sudah sangat berkurang lantas akan bisa kembali lagi manakala ada perubahan mobilisasi dari masyarakat,” terang Doni.

Baca juga  BPJS Kesehatan Naik Lagi, Wasekjen MUI : Apes

KLASTER TP DAN PAKUWON

Saling bantah itu tak berhenti disitu saja. Di bagian ketiga ini Pemprov Jatim dan Kota Surabaya kembali saling bantal soal dua klaster baru di Mal Tunjungan Plaza dan Mal Pakuwon.

Klaster baru ini dinyatakan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak.

“Ada klaster penyebaran corona di 2 mal di Surabaya yakni Pakuwon Mal dan Tunjungan Plaza,” tuturnya Selasa (12/5/2020).

Lagi-lagi Pemkot Surabaya membantahnya. Melalui Koordinator Protokol Kesehatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, Febria Rachmanita, menegaskan Pakuwon Mal dan Tunjungan Plaza tidak masuk dalam klaster penularan virus corona di Surabaya. Alasannya, sumber penularannya tidak berawal dari dua mal itu.

“Kalau dilihat dari hasil tracing, sumber penularannya bukan di Pakuwon, sehingga itu bukan klaster. Yang di TP malah kami enggak ada,” kata Febria, Selasa (12/5/2020).

Febria menilai, klaster adalah pengelompokan berdasarkan sumber awal penularan setelah dilihat dari hasil survei di lapangan. Febria menegaskan jika Pemkot Surabaya sudah melakukan tracing secara masif dan lengkap di 2 mal tersebut, hasilnya tak ditemukan klaster penyebaran corona.

“Pakuwon Mall itu bukan menjadi sumber awal penularan, sehingga tidak dikatakan klaster,” terangnya.

Dianggap masih ngeyel juga,
Ketua Gugus Tracing Penanganan Covid-19 Jatim, dr Kohar Hari Santoso, memastikan data klaster corona di 2 mal tersebut valid.

Di Pakuwon Mal, kata Kohar, ditemukan kasus positif COVID-19 pada 26 Maret 2020. Pasien merupakan seorang marketing yang berkantor di Pakuwon Mal. Namun pasien tersebut sudah sembuh.

“Dia sakit, onsite sakitnya tanggal 11 Maret dan beliau sembuh,” ujar Kohar.

Baca juga  BPJS Akan Ganti Biaya Pasien Corona

Kemudian penemuan kasus positif Covid-19 pada 24 Maret 2020. Pasien tersebut sakit sejak 13 Maret. Empat hari usai dinyatakan positif, pasien tersebut meninggal dunia pada 28 Maret.

“Pasien tersebut tidak ada riwayat ke negara atau daerah terjangkit selama 14 hari sebelum sakit. Tetapi yang jelas pada 1 Maret dia aktivitasnya di Pakuwon,” jelas Kohar.

Dari yang meninggal tadi, lanjut Kohar, pembantunya tanggal 3 April juga di-declare positif.

“Onsite sakitnya tanggal 18 Maret. Dia posisinya erat dengan yang kasus yang meninggal tadi,” imbuhnya.

Kemudian, ada satu lagi kasus positif Covid-19 pada 5 April 2020. Saat dilacak tidak ada perjalanan di negara terjangkit.

“Tetapi dia itu tinggalnya bersama anaknya yang kerjanya di Pakuwon Mal. Jadi kita proporsional saja. Ini kejadiannya pada bulan Maret, jadi belum masuk pada masa PSBB,” urainya.

Sementara dari klaster corona di Tunjungan Plaza, kata Kohar, terdapat 9 kasus positif yakni kasus 101, 181, 182, 433, 464, 488, 489, 490, dan 497.

Kohar menegaskan, klaster mal hasil tracing Tim Gugus Jatim bukan bertujuan untuk menjelekkan pihak tertentu. Melainkan sebagai bahan pelacakan agar penyebaran Covid-19 di Jatim bisa ditekan.

“Ini bukan berarti mendiskreditkan Pakuwon. Niat kita bukan untuk menjelek-jelekkan, tapi untuk tracing,” pungkasnya.01/ Bagus

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *