Pesantren Jadi Klaster Baru Corona, PBNU: Tingkatkan Kewaspadaan

Pesantren kini menjadi klaster baru penularan virus Corona. Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi mengimbau agar pesantren meningkatkan waspada.

Masduki melaporkan, ada enam pesantren yang menjadi klaster baru penyebaran COVID-19.

“Maka perlu ada kewaspadaan dalam hal pencegahan dan penanganan Corona,” ujarnya saat siaran pers, Selasa (14/7/2020).

KELUARKAN SURAT EDARAN

Menurutnya, PBNU beberap hari ke depan akan menguarkan surat edaran untuk melakukan langkah-langkah agar pesantren tidak menjadi tempat penyebaran yang lebih luas lagi.

“Karena belajar dari kasus selama ini ada pesantren sudah jadi klaster penyebaran, ada enam pesantren maka harus jadi kewaspadaan kita semua,” ucap Masduki.

Pesantren yang menjadi klaster tersebar di berbagai daerah. Seperti di Pesantren milik Ketua DPRD Rembang, KH Majid Kamil MZ atau Gus Kamil yang meninggal karena virus Corona.

“Kemudian kayak Gontor, lalu ke dua pesantren, beberapa tempat, sudah ada kira-kira enam pesantren termasuk di tempat Gus Kamil, Ketua DPRD jadi salah seorang pimpinan pesantren di Sarang, Rembang. Di Magetan, di pesantren Tangerang,” paparnya.

KEGIATAN BELAJAR DITUNDA

Menurut Masduki, harus ada tindakan penanganan dilakukan oleh pesantren yang menemukan kasus postif COVID.

“Terhadap pesantren yang sudah masuk (pembelajaran) kemudian ada terpapar, harus dilakukan langkah karantina terhadap yang sudah positif, yang lain harus dilakukan tes, kan seperti itu,” ujarnya.

Selain itu, bagi pesantren yang belum melakukan kegiatan belajar mengajar, maka sebaiknya kegiatan belajar mengajar ditunda terlebih dahulu.

“Kalau berangkat dari internal pesantren, sampai saat ini ada semacam imbauan untuk tunda santri masuk pesantren, saat ini mengingat COVID-19 tidak semakin reda,” ucapnya.

Namun, jika sudah ada kegiatan belajar mengajar tapi belum ada kasus, sebaiknya dilakukan rapid test. Tindakan itu sebagai bentuk dari pencegahan.

“Terhadap pesantren yang sudah membuka, maka dilakukan rapid test secara masif, saya kira cara seperti inilah yang harus kordonasikan pimpinan pesantren dengan gugus tugas setempat. Kalau nggak, ini semakin parah, kalau semisal terjadi ada COVID. Bisa menjadi tertular pada yang lain,” tandas dia. Bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *