by

Toleransi dalam Bingkai Tauhid

Bismillah…
Saudaraku yang harus terpatri dan kita pegang erat dalam hidup ini adalah kalimat tauhid Laa ilaaha Illallah. Kalimat tauhid inilah yang harus kita pertahankan sampai akhir hayat kita.
Bahkan, menurut Rasulullah kalau menjelang ajal kita dan lisan kita bisa mengucapkan kalimat tauhid tersebut maka pahalanya adalah dijamin surga. Luar biasa, padahal sekedar mengucapkan secara lisan saja.
Rasulullah bersabda :

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ
“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah Laa ilaaha illallaah, maka dia akan masuk surga.” HR Ab Dawud)

Karena itu Rasulullah memerintahkan kepada kita agar mentalqin atau membimbing orang yang akan meninggal dunia dengan kalimat tauhid tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah:
لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ
“Tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illa Allah’” (HR muslim)

DALAM HATI
Tidak hanya dengan lisan, perintah untuk mempertahankan kalimat tauhid itu juga harus dilakukan dalam hati. Sebagaimana sabda Rasulullah:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفاَعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ.
“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallaah,’ dengan ikhlas dari hati atau jiwanya.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)
Jadi kalimat tauhid tersebut harus diyakini dalam hati dan diucapkan dengan lisan. Antara hati dan lisan ada sinkronisasi.

Baca juga  Mabes Polri Kerahkan Tim TAA Usut Kecelakaan Beruntun di Balikpapan

AMAL PERBUATAN
Saudaraku, selain dalam hati dan ucapan, kalimat tauhid juga harus dibuktikan dengan amal perbuatan. Apa artinya kalau hati dan ucapakan kita Laa ilaaha Illallah tetapi amal perbuatannya bertentangan dengan kalimat tersebut.
Rasulullah bersabda :
من مات وهو يعلم أنه لا إله إلا الله دخل الجنة
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan mengerti لاإله إلا الله (yaitu tidak ada yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah) maka ia akan masuk surga”. (HR Muslim )
Memahami kalimat tauhid di sini artinya, dalam Amaliah kita sehari hari, kita paham dan mengerti bahwa tidak ada Tuhan lain selain Allah. Tidak ada kekuatan lain yang maha kuasa kecuali Allah. Tidak boleh menyamakan Allah dengan sesuatu apapun. Kalau antara hati, ucapan dan perbuatan kita menyatu, maka orang seperti inilah yang dijamin Rasulullah Surga.

INTOLERANSI
Saudaraku, seringkali kita mendengarkan ucapan intoleransi yang ditujukan kepada saudara-saudara kita yang memegang teguh akidah dan tauhidnya. Mereka yang tidak mau menjadi panitia natal atau menolak mengucapkan selamat natal, dikatakan sebagai seseorang yang terlalu fanatik dan tidak toleransi terhadap agama lain. Ketahuilah saudaraku,
karena begitu urgennya Laa ilaha Illallah terhadap aqidah dan kehidupan kita maka tidak salah kalau kita memurnikan persaksian kita laa ilaaha illallah dengan tidak mencemarinya dengan sesuatu apapun termasuk syirik besar berupa NATALAN.
Karena menyekutukan Allah dan menuhankan selain Allah maka dalam Islam yang memperingati natal ditetapkan sebagai kafir oleh Allah SWT.
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Baca juga  Kemendibud Tetap Istiqomah PTM untuk Membenahi Karakter Siswa

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”(QS Al-Maidah: 72)

ALLAH TIDAK RIDHO
Mengikuti perilaku orang yang kafir, sama hanya kita mengundang kemurkaan Allah. Karena sesungguhnya Allah sangat tidak ridho kepada hambanya yang kafir.
إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ…
Artinya : “Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Az Zumar 7)
Sesuatu yang tidak diridhoi Allah, sudah seharusnya kita jauhi. Bukan malah kita dukung dan kita beri ucapan selamat. Karena itu sama halnya kita mengakui apa yang mereka lakukan.

Baca juga  Disperindag Kabupaten Mojokerto Sidak Harga Minyak Goreng di Pasar Tradisional, Ini Temuannya

HARAM
UCAPKAN NATAL
Ucapan selamat adalah bentuk pengakuan atau pembenaran kita terhadap keyakinan natal. Karena itu, ucapan selamat natal diharamkan karena perayaan kelahiran yesus anak tuhan adalah dosa yang tidak terampuni dan sangat tidak diridhoi Alllah. Bahkan Rasulullah melarang mengucapkan selamat kepada orang Yahudi maupun Nasrani.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ
“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Ucapan selamat natal termasuk di dalam larangan hadits ini.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang kaum muslimin untuk menyerupai kaum kafir terutama dalam masalah ibadah.
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Sebagai penutup dapat kita simpulkan bahwa
TIDAK MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL BUKAN BERARTI KITA INTOLERANSI.
TOLERANSI TIDAK BOLEH MENGORBANKAN AQIDAH. TIDAK MENGGANGGU MEREKA BERIBADAH DAN MEMBIARKAN MEREKA NATALAN DENGAN TENANG SUDAH TERMASUK TOLERANSI.
Semoga bermanfaat…

Senin 20 Desember 2021
Nchnurani@gmail.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed