Pernyataan menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang membandingkan toa Masjid dan Anjing Menggonggong direspon oleh MAjelis Ulama Indonesia (MUI).
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis merasa sedih dengan pernyataan Menteri Agama yang membandingkan suara toa di masjid maupun mushala terkait dengan gonggongan anjing. Cholil merasa ilustrasi yang disampaikan tidak dalam konteks yang pas.
“Ya Allah.., ya Allah.., ya Allah. Kadang malas berkomentar tentang perbandingan sesuatu yang suci dan baik dengan suara hewan najis mughallazhah ,” ucap Cholil kepada wartawan berusaha menahan diri.
Menurut dia, pejabat pejabat bisa menyampaikan sesuatu kepada publik dengan bahasa. Cholil pun berdoa kepada Sang Pencipta agar semua masyarakat mendapat perlindungan dari masalah yang dihadapi.
“Karena itu bukan kinerja, tapi soal kepantasan di ruang publik oleh pejabat publik. Mudah-mudahan Allah mengampuni dan melindungi kita semua,” ucap Cholil.
Pada Rabu (23/2), Menag Yaqut Cholil Qoumas membuat geger jagat dunia maya. Hal itu setelah video wawancara Yaqut terkait surat edaran (SE) pengeras suara di masjid dan mushala, viral di media sosial. Karena itulah, Kementerian Agama (Kemenag) mengatur suara masjid agar tidak mengganggu masyarakat sekitar.
“Misal depan belakang pelihara anjing semua, menggonggong dalam waktu bersamaan. Kita terganggu gak ?” ucap Yaqut dalam video wawancara di Balai Serindit, Komplek Gubernuran, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, yang diunggah akun Twitter , @Boesthami, dikutip di Jakarta, Kamis.
Ketua umum GP Ansor itu menyebut, suara apapun, termasuk azan yang keluar dari pengeras suara dianggap mengganggu maka harus diatur. Hal itu dilakukan agar tidak menjadi gangguan bagi orang lain. Kebijakan itu juga agar masyarakat agama lain tidak terganggu ke masjid.(01)






