Pada peringatan Hari Lahir (Harlah) Pancasila kali ini, PImpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya menggelar Cangkruk’an Malam Refleksi kelahiran Pancasila pada (31/5) di Gedung Pusat Muhammadiyah Surabaya. Tak hanya sebatas cangkruk saja, melainkan juga ada acara bedah buku Babad Muhammadiyah Surabaya.
“Kami sampaikan apresiasi kepada Angkatan Muda Muhammadiyah Surabaya yang terdiri dari Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Hizbul Wathon Muhammadiyah bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Majelis Pustaka Informatikan dan Digitalisasi PDM Surabaya, yang semalam menggelar acara Cangkruk’an Malam Refleksi kelahiran Pancasila,” ungkap Ustaz Catur selaku Sekretaris PDM kota Surabaya, Kamis (1/6).
Ustaz Catur menjelaskan, kegiatan ini digelar dengan penuh semangat untuk menguatkan kesadaran berbangsa pada generasi muda. Menurutnya malam refleksi ini begitu berarti bahwa Pancasila adalah sebagai pemersatu bangsa agar Indonesia terus menuju kejayaan, kemakmuran dan persatuan. Acara Cangkruk’an ini diharapkan terus dikembangkan dengan momen momen kebangsaan lainnya. Apalagi juga ditampilkan para siswa SMA Muhammadiyah 10 Surabaya sebagai sekolah keberbakatan yang terus menginspirasi dalam berkarya berupa orkestra berkolaborasi wayang yang dikemas secara menawan sehingga cocok untuk kalangan Milenial.

Pada acara Cangkruk’an tersebut juga dilakukan bedah buku Babad Muhammadiyah Surabaya yang sudah seabad lebih Muhammadiyah Surabaya berdakwah, sebagai karya kolaborasi Andi Hariyadi bersama para kader Muhammadiyah Surabaya dan Kyai Cepu yang begitu ekspresif membawakan puisi dan dongeng yang sangat berkesan. Sehingga yang hadir seakan terbawa serta terpukau dan kagum akan narasi kritikan kebijakan negara.
“Acara Cangkruk’an ini juga dilakukan membubuhkan tanda tangan pada buku karya dari narasumber yaitu Babad Muhammadiyah Surabaya 1921-2021 dan buku Ontologi Analis dan Kritik terhadap issu-issu Filsafat, Agama dan Sain begitu inspiratif untuk memotivasi generasi bangsa untuk berkarya,” terang Ustaz Catur.
Sementara Ketua MPID PDM Surabaya Ustaz Andi Hariyadi mengajak generasi bangsa bisa meneladani para tokoh Muhammadiyah untuk melanjutkan dakwah yang mencerahkan. Seperti interaksi HOS. Cokroaminoto bersama KH. Ahmad Dahlan yang aktif menginisiasi kemerdekaan bangsa ketika masih terjajah. Upaya sinergi perjuangan terus dikembangkan bersama Mas Mansur, Sukarno, Dr. Sutomo.
“Sehingga pada tanggal 1 November 1921 KH. Ahmad Dahlan melantik KH. Mas Mansur sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya,” paparnya.
Lebih lanjur Ustaz Andi memaparkan, ada beberapa keteladan yang bisa kita lanjutkan. Diantaranya semangat persatuan dan terus berjuang untuk bangsa meski berat tantangan tidak gentar mewujudkan kemerdekaan.
Kyai Kusen Cepu, selaku Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai narasumber kedua menyampaikan, jangan melupakan sejarah bangsa dan Ki Bagus Hadi Kusumo selaku Ketua Muhammadiyah saat merumuskan dasar dan arah bangsa bersama Sukarno, Hatta, Kasman Singodimedjo dan lainnya agar bangsa tetap utuh dan terjaga persatuannya. Awalnya Ki Bagus yang semula menolak penghapusan tujuh kata pada sila pertama Pancasila, akhirnya bisa diterima dan sila Pertama Pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa yang sesungguhnya merupakan nilai ketauhidan. “Sehingga produk hukum dan kebijakan negara harus merujuk pada Pancasila untuk memajukan bangsa Indonesia,” tukas Kyai Kusen mengisahkan. Bagus







