Tren Pekerja Anak di Jatim Turun Drastis

Jawa Timur tak henti-hentinya menorehkan prestasi di berbagai bidang. Setelah beberapa waktu lalu mendapat penghargaan di sektor pertanian, kali ini jumlah pekerja anak di Jatim menurun secara signifikan selama tiga tahun berturut-turut.

Jawa Timur berkomitmen penuh untuk menciptakan lingkungan dan suasana yang kondusif bagi anak-anak. Menyediakan berbagai macam tempat yang dapat digunakan untuk rekreasi atau hanya sekedar menjadi tempat bermain bagi anak-anak. Oleh karena itu, pada momen peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (World Day Against Child Labour) yang diperingati setiap tanggal 12 Juni, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan komitmennya atas terpenuhinya perlindungan dan hak anak-anak di Jatim.
Hal tersebut diatas dibuktikan oleh Gubernur Khofifah melalui data statistik yang diluncurkan oleh BPS yang menunjukkan bahwa prosentase pekerja anak usia 10-17 tahun mengalami penurunan yang signifikan. Jatim menempati posisi ketiga dengan capaian 1,51% satu tingkat dibawah Aceh dengan capaian 1,01% dan DKI Jakarta yang menempati urutan pertama dengan prosentase 0,61%.

Baca juga  Pemkot Surabaya Tata Taman dan Perbaiki Infrastruktur

Menentang Pekerja Anak
Khofifah mengatakan bahwa Hari Dunia Menentang Pekerja Anak merupakan peringatan tahunan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global terhadap masalah pekerja anak yang masih berlangsung di banyak negara di seluruh dunia. Pekerja anak memiliki dampak jangka panjang yang merugikan. Karena, anak-anak yang terjebak dalam pekerjaan tidak layak seringkali berhenti dari pendidikan mereka dan membatasi peluang masa depan mereka.
“Bahkan, mereka juga berisiko tinggi mengalami penyalahgunaan, eksploitasi, dan kondisi kerja yang berbahaya. Pada momen ini, hal-hal seperti inilah yang akan menjadi fokus utama kami dalam pengentasan pekerja anak,” papar Khofifah.
Khofifah menuturkan, melalui tema “Social Justice for All. End Child Labour_!” yang artinya “Keadilan Sosial untuk Semua. Akhiri Pekerja Anak!” dirinya berharap bahwa semangat yang terkandung didalamnya mampu menekankan hubungan antara keadilan sosial dan pekerja anak. Sehingga, Dampak-dampak negatif harus ditekan dengan meningkatkan kualitas hidup keluarga.
“Saya akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menanggulangi pekerja anak melalui upaya pencegahan, pemantauan/pengawasan, dan mendorong kemitraan lokal untuk melakukan remediasi pekerja anak,” jelasnya.

Baca juga  Ribuan Perempuan Surabaya Tumpah di GOW Fit-Fest 2026

Kerja Sama
Menurut Khofifah, sejak tahun 2021 Jawa Timur telah berhasil mempertahankan predikat Provinsi Layak Anak (Provila). Hal tersebut lantaran keberhasilan Provinsi Jawa Timur dalam mendorong dan mewujudkan seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur untuk masuk ke dalam pemeringkatan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).
Masih menurut Khofifah, indikator yang harus dipenuhi dalam KLA terdapat lima klaster utama. Antara lain hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan anak, kesehatan dasar dan kesejahteraan anak, pendidikan serta pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya juga perlindungan khusus, dengan didukung penguatan kelembagaan.
“Semua tidak bisa berjalan sendiri, pretasi ini adalah hasil kerjasama dan koordinasi serta kolaborasi lintas sektor hingga di tingkat kabupaten/kota di Jawa Timur,” pungkasnya. (Lin)

Baca juga  500 RW Lolos Lomba Kampung Pancasila Surabaya Segera Diumumkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *