Unair Kukuhkan Mahasiswa Baru Pascasarjana, Dua Orang dari Gaza

Universitas Airlangga (Unair) mengukuhkan mahasiswa baru program pendidikan pascasarjana tahun akademik 2025/2026, Jumat (8/8) di Kampus C Unair Surabaya.

Mahasiswa baru terdiri dari 763 mahasiswa magister (53,24%), 246 mahasiswa doktor (17,17%), 68 mahasiswa profesi (4,75%), 313 mahasiswa spesialis (21,84%), dan 43 mahasiswa subspesialis (3%).

Rektor Unair, Prof Muhammad Madyan mengaku, tak hanya dari dalam negeri, Unair juga menerima mahasiswa luar negeri. Seperti Palestina, Malaysia, Pakistan, Sudan, dan Tanzania. Total terdapat 24 mahasiswa asing yang diterima, dan 13 di antaranya menerima Airlangga Development Scholarship (ADS), beasiswa khusus bagi mahasiswa dari negara berkembang.

Prof Madyan menyatakan harapan besar dari pengukuhan ini. “Mahasiswa-mahasiswa ini adalah agen perubahan. Dari kampus ini, mereka akan berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, bahkan dunia. Bersama, kita siapkan generasi untuk menyambut Indonesia Emas 2045,” ungkapnya kepada media.

Diantara mahasiswa yang dikukuhkan, dua mahasiswa dokter spesialis dari Jalur Gaza Palestina. Mereka adalah Dr. Ibrahim M. M. Abusalem (program Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik) dan Dr. Ahmed Eliaan Shaker Abuajwa (program Ilmu Bedah Saraf).

Usai dikukuhkan, keduanya juga menceritakan kondisi terkini di Palestina. Terutama rumahnya yang hancur lebur melanda keluarga dan saudaranya.

Ahmed menjelaskan bahwa dirinya datang ke Indonesia dengan niat kuat dan komitmen penuh, menyadari bahwa kondisi di Gaza sangat berat.

“Saya sudah diskusikan ini dengan keluarga. Saya mungkin tidak bisa kembali sebelum menyelesaikan pendidikan dan membawa bukti kelulusan. Gaza saat ini mengalami krisis kemanusiaan besar. Rumah saya hancur. Keluarga kini berada di pengungsian,” ujarnya sedih.

Meski menghadapi kesulitan luar biasa, Ahmed tetap termotivasi oleh dorongan keluarga untuk tetap fokus belajar. “Mereka selalu menyemangati saya untuk tetap lanjut. Mereka bilang, ‘Jangan pikirkan kami, yang penting kamu belajar dan bisa membawa ilmu yang bermanfaat bagi kami semua’.”

Dr Ahmed menyampaikan motivasinya belajar di Unair sebagai pilihan yang sangat berarti.

“Saya memilih UNAIR karena merupakan salah satu pusat pendidikan terbaik di Indonesia untuk ilmu bedah saraf. Ini adalah kebanggaan besar bagi saya, karena di Gaza kami sangat membutuhkan dokter spesialis bedah saraf,” ungkapnya.

Terkait biaya pendidikan, Dr. Ahmed menjelaskan bahwa ia saat ini masih berstatus mahasiswa mandiri namun telah mengajukan permohonan beasiswa dari UNAIR.

“Kami bukan hanya belajar, tetapi juga sepenuhnya fokus pada pendidikan dan pelatihan di rumah sakit. Tidak ada waktu untuk bekerja di luar karena memang sangat intensif,” jelasnya.

Usai lulus, Ahmed ingin mengabdikan dirinya untuk warga Palestina. Sembari mengingat keluarganya di Palestina, Ahmed ingin segera lulus dan bisa membantu saudara saudaranya disana. (Bg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *