Gus Yahya Tepis Tuduhan Eksploitasi dalam Kasus Santri Kerja Bakti Bangun Pesantren

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menepis anggapan eksploitasi santri dalam kerja bakti bangun pesantren.

Hal ini dikomentari Gus Yahya atas sorotan publik terhadap tradisi santri melakukan kerja bakti (roan) membantu proses pembangunan di pesantren setelah bangunan mushala tiga lantai di asrama putra Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk.

Gus Yahya menegaskan, keterlibatan santri dalam kegiatan pembangunan pesantren bukan bentuk eksploitasi. Karena santri hanya bersifat membantu, pekerjaan utama dalam membangun tetap dilakukan tukang. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan salah satu bagian dari proses edukasi gotong royong di pondok pesantren.

Baca juga  Presiden Prabowo Sumbang 18 Sapi Kurban di Sulawesi Tenggara

“Santri itu punya tiga hal utama, yaitu tholabul ilmi, tazkiyatun nafs, dan jihad fi sabilillah. Jadi, kegiatan di pesantren bukan hanya belajar untuk mengisi otak dengan pengetahuan, tetapi juga melatih diri dalam berkhidmat, membersihkan jiwa, serta memberikan pelayanan dengan niat yang tulus,” ujar Gus Yahya, usai kegiatan kick off Hari Santri di Gedung PBNU, Kramat, Jakarta Pusat, Jumat (10/10/2025).

Menurutnya, kerja bakti di lingkungan pesantren sama halnya dengan gotong royong di masyarakat saat membangun sebuah bangunan.

“Kalau kerja bakti, ya sama saja seperti di kampung, bersih-bersih got itu juga kerja bakti. Masa dianggap mempekerjakan orang kampung?” katanya.

Menurut Gus Yahya, kegiatan membangun gedung di pesantren dilakukan untuk kepentingan para santri sendiri, misalnya pembangunan madrasah atau asrama yang akan mereka gunakan. “Membuat gedung untuk madrasah itu untuk kegiatan belajar mereka. Membangun kamar-kamar juga untuk tempat tinggal mereka sendiri. Jadi, ini soal tradisi pesantren, bukan soal mempekerjakan santri,” jelasnya.

Baca juga  PDUF MUI Gencar Galakkan Program Ekonomi Berbasis Pesantren

Ia menegaskan, pesantren bukanlah badan usaha yang mencari keuntungan, melainkan lembaga pengabdian (khidmah) non-profit yang dijalankan dengan ikhlas untuk memberi kesempatan belajar bagi anak-anak.

“Justru hal itu menjadi contoh bagaimana kita menghadapi masa dan tantangan bersama dengan bersatu dan bekerja sama,” pungkasnya. (Ym)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *