Sempat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seorang pria di Kota Mojokerto sukses budidaya ikan cupang.
Pria tersebut bernmaa Dedy Prastiono warga Jalan Kemasan Gang 7, Lingkungan Mergelo, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.
Di rumahnya, terdapat ratusan botol dan galon bekas air mineral disulap menjadi tempat ikan cupang berbagai jenis.
Dedy menekuni budidaya ikan cupang ini sejak tiga tahun lalu usai dirinya terkena PHK salah satu perusahaan BUMN yang berada di Kota Surabaya.
Pria 34 tahun tersebut awalnya hanya coba-coba setelah bertamu ke rumah salah satu temannya yang ternyata sudah membudidayakan cupang.
“Awalnya coba-coba gara-gara kepepet karena kondisi. Soalnya apa, kita sebelumnya itu kena PHK, pernah bekerja di salah satu perusahaan BUMN. Terus ada kesentralisasi, kita kena PHK. Di situ habis kena PHK, kita kan bingung. Jadi untuk awal mulanya kita maksimal untuk melangkah ke dunia percupangan. Itu gara-gara kita main ke rumah salah satu teman. Kebetulan juga pemain ikan cupang,” kata Dedy Prastiono, Senin (1/12/2025).
Ia menambahkan, mulai dari jenis cupang aduan hingga hias Dedy ready stok. Untuk harganya mulai dari paling murah Rp 20 ribu sampai jutaan untuk cupang hias.
“Sekarang jalan hampir tiga tahun, untuk jenis-jenis di sini hampir lengkap ya. Kurang lebih hampir 90 jenis ada di sini. Untuk yang paling murah sampai mahal dari harga Rp20.000 sampai mahal bisa jutaan juga. Tergantung dari kualitas ikannya masing-masing. Banyak jenis juga dari mulai cupan petarung juga ada. Untuk hiasan juga ada. Terus kalau kebetulan untuk jenis-jenis spek kontes, kita belum menyiapkan,” jelasnya.
Menurut Dedy, saat ini dirinya menjual dari platform e-commerce. Ia melayani pembelian ikan cupang hanya wilayah Indonesia dan paling sampai Aceh.
“Pembeli beragam sih macam-macam. Hampir sepulau Jawa pernah beli di sini. Bahkan di luar pulau juga. Contohnya kalau misalnya untuk saat ini luar pulau ya Sumatera, Maluku, Ambon, Kalimantan banyak lah. Bahkan di Aceh juga ada pernah. Untuk luar negara, kebetulan kita saat ini masih belum sampai ke sana. Soalnya untuk pengurusan segala macam kan masih ribet. Mungkin enggak tahu untuk kedepannya, kurang lebih nanti bisa dimaksimalkan,” tuturnya.
Masih kata Dedy, untuk perawatan sehari-hari dan pengiriman ikan cupang untuk pembeli dirinya dibantu oleh keponakannya.
“Dibantu keponakan. Perawatan ikan cupang itu lebih simple. Pergantian air yang enggak harus setiap hari. Bisa 3 hari, bahkan bisa 1 minggu, 2 minggu, bahkan 1 bulan,” paparnya.
“Nanti untuk tambahan lagi bisa dikasih tanaman hidup atau aquascape yang sekarang ini kan banyak itu nanti ada fungsinya dari pasir malang, tanaman hidup, kayak tanaman hidup nanti kan bisa menyerap amonia atau sisa-sisa makanan, atau kotoran, segala macam dan juga berfungsi nanti untuk tanaman hidupnya nanti juga kan untuk tambahan oksigen juga untuk si ikan,” pungkas Dedy. (Ym)






