Sejumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz mulai meningkat di tengah pembatasan akses akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat sebanyak 16 kapal melintas hingga Jumat (3/4), sekaligus menandai kenaikan selama tiga hari berturut-turut.
Seluruh kapal tersebut diketahui menggunakan jalur melalui Pulau Larak. Windward menilai tren ini menunjukkan semakin banyak negara yang bernegosiasi dengan Iran untuk mendapatkan akses melintas.
“Hal ini menunjukkan semakin banyak negara yang bernegosiasi dengan Iran untuk mendapatkan akses, serta mengindikasikan jumlah transit berpotensi meningkat dalam beberapa hari ke depan,” demikian laporan Windward melansir Al Jazeera.
Meski demikian, volume lalu lintas masih jauh di bawah kondisi normal. Sebelum konflik pecah pada 28 Februari lalu, sekitar 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari, menurut data United Nations Conference on Trade and Development.
Di tengah kondisi tersebut, Iran diketahui membuka akses terbatas bagi sejumlah negara untuk tetap melintasi jalur strategis tersebut.
Kebijakan ini memungkinkan kapal dari negara tertentu tetap beroperasi di jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, meski Iran sebelumnya membatasi akses sebagai respons atas serangan militer.
Windward menyebut langkah Iran menunjukkan adanya “blokade selektif” yang memberi ruang bagi negara sekutu atau mitra untuk tetap melintas.
“Rute baru ini menunjukkan bagaimana blokade selektif Iran memungkinkan sekutu dan pendukungnya melakukan transit,” tulis laporan tersebut.
Iran disebut telah memberikan lampu hijau bagi kapal Indonesia untuk melintas, meski masih menunggu kesiapan teknis dari pihak terkait.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl menyebut terdapat respons positif dari Iran terkait perlintasan kapal milik Pertamina.
“Terdapat pertimbangan positif Pemerintah Iran atas keamanan perlintasan kapal milik Pertamina Group di Selat Hormuz,” ujarnya. Bg






