Muslichah (85), seorang penjual cilok asal Bugul Kidul, Kota Pasuruan, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk menunaikan ibadah haji. Setelah menabung selama puluhan tahun dari hasil berjualan, ia dipastikan berangkat ke Tanah Suci tahun ini.
Setiap hari, Muslichah menempuh jarak satu kilometer dengan mendorong rombong roda tiga menuju tempat berjualan di kantin SMPN 5 Pasuruan. Dari penghasilan rata-rata Rp50 ribu per hari, ia konsisten menyisihkan uang sebesar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu untuk ditabung.
“Sedikit-sedikit saya sisihkan. Kalau tidak nabung ya tidak bisa berangkat, karena kebutuhan banyak,” ujar Muslichah saat ditemui wartawan, Jumat (24/4).
Uniknya, sebelum memiliki rekening bank, ia sempat menyimpan sebagian uang tabungannya di dalam potongan bambu. Selain menabung mandiri, Muslichah juga mengikuti arisan mingguan sebesar Rp80 ribu untuk menambah biaya pendaftaran haji.
Perjuangan ini telah dimulainya sejak usia muda. Meski suaminya telah wafat 12 tahun lalu, semangat Muslichah tidak surut. Ia tetap bangun pukul 02.00 WIB dini hari untuk memproduksi ciloknya sendiri sebelum berangkat berjualan setelah subuh.
Muslichah mendaftarkan diri pada tahun 2017. Setelah menunggu selama sembilan tahun, ia akhirnya berangkat bersama putri bungsunya, Mariyatul Kibtiyah (35). Mariyatul menyusul mendaftar pada 2020 dan berangkat melalui skema penggabungan mahram sebagai pendamping lansia.
“Saya ingin mendampingi Emak. Beliau orangnya sangat sabar. Saya ikut menabung dari sisa belanja kebutuhan jualan,” kata Mariyatul, yang kini juga meneruskan usaha berjualan cilok di malam hari.
Kini, di usianya yang senja, Muslichah mengaku sangat bersyukur impiannya sejak puluhan tahun silam dapat terwujud. Ia berharap perjalanannya lancar dan seluruh keluarganya selalu diberikan kesehatan. Bg












