Operasional penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriyah/2026 Masehi telah memasuki hari ke-13. Sementara itu, total jemaah haji Indonesia yang wafat di Madinah, tercatat sebanyak 7 orang.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Maria Assegaf mengatakan, sebagian besar jemaah yang wafat karena serangan jantung dan paru-paru. Perihal ini, pemerintah keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
“Total jemaah wafat adalah tujuh orang, sebagian besar disebabkan serangan jantung dan paru-paru. Kita doakan semoga husnul khotimah dan keluarga diberi ketabahan,” kata Maria dalam keterangan pers seperti disiarkan di Youtube Kemenhaj, Ahad, (3/5/2026).
Adapun tujuh jemaah Indonesia yang wafat yakni Siti Sri Rahayu Sanusi (65) kloter SOC 12 (Solo) asal Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Tukiman Sardi Kromo Karso (54) dari embarkasi PDG (Padang) 04, asal kota Bengkulu, dan Dawanus Mahmud Muhammad Hasyim (51).
Dawanus dari embarkasi BTH (Batam) 05, asal Kabupaten Kampar Riau. Kemudian Kamariah Dul Tayib (85) dari kloter Bandar Udara Internasional Juanda di Surabaya (SUB) 8 asal Pasuruan, Jawa Timur.
Rodiyah asal Tegal, Jawa Tengah, Nursidah (58) dari UPG (Makassar) Kabupaten Gowa. Selanjutnya, Endar Jaya Purwadi (62) kloter BPN 01 (Balikpapan) asal Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Maria mengatakan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menjamin badal haji untuk jemaah yang wafat di Tanah Suci. Badal haji yaitu pelaksanaan ibadah haji yang diwakilkan atau digantikan oleh seseorang (Badal) atas nama orang lain karena uzur misal meninggal dunia.
“PPIH menjamin badal haji bagi jemaah yang wafat. Kita doakan agar almarhum dan almarhumah husnul khotimah,” ujarnya.
Sementara itu, terkait perkembangan kesehatan jemaah haji Indonesia, secara kumulatif tercatat sebanyak 6.823 jemaah menjalani rawat jalan. Sebanyak 117 jemaah dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan 141 jemaah dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS).
Total ada 59 jemaah masih dalam perawatan hingga saat ini. Maria memastikan petugas haji memantau kondisi kesehatan jemaah dan mendapatkan pelayanan medis yang optimal baik di kloter, daker hingga rujukan. (Ym)












