BGN Ngaku Kesulitan Dapat Pasokan Susu MBG

Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui pasokan susu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menjadi tantangan besar di lapangan.

Di tengah jumlah penerima manfaat yang sudah menembus 63 juta orang, kebutuhan susu program MBG pada 2026 diperkirakan mencapai 4,8 miliar kemasan, sementara kapasitas industri pengolahan susu nasional baru mampu memenuhi sekitar 49,7 persen dari kebutuhan tersebut.

“Untuk kebutuhan susu yang sangat besar ini, kami juga agak kewalahan. Rekan-rekan kami di lapangan khususnya yang di dapur apabila tidak mendapatkan susu di pasar, itu biasanya mereka mengganti dengan sumber protein lainnya,” kata Plt Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN Gunalan dalam konferensi pers di Kementerian Koordinasi Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (2/6).

Baca juga  Prabowo Tinjau Sejumlah SPPG, Pastikan Sudah Sesuai Standar

Gunalan menjelaskan hingga kini program MBG didukung oleh 29.670 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang melayani lebih dari 63 juta penerima manfaat.

Mengacu pada Surat Edaran Kepala BGN Nomor 10 Tahun 2026, setiap SPPG diwajibkan menyediakan susu atau minuman susu minimal dua kali dalam sepekan. Namun, besarnya kebutuhan tersebut kerap tak sejalan dengan ketersediaan pasokan di sejumlah daerah.

Menurut dia, ada dua penyebab utama yang membuat susu masih sulit diperoleh. Pertama, kendala distribusi ke wilayah terpencil yang bergantung pada kondisi transportasi dan cuaca.

“Daerah-daerah yang terpencil, misalnya mungkin karena transportasi ke sana agak susah, mungkin ombak dan lain sebagainya, terkadang logistik itu datang sampainya tidak tepat waktu,” ujarnya.

Baca juga  Fluktuasi Kurs Dolar, Bapanas Jamin Harga Beras SPHP tak Naik

Kedua, jumlah penerima manfaat yang sangat besar membuat kebutuhan susu MBG melonjak jauh di atas kapasitas produksi yang tersedia saat ini.

Gunalan mengatakan kondisi tersebut membuat sebagian pelaksana MBG harus melakukan penyesuaian menu ketika susu tidak tersedia di pasaran. Dalam situasi tertentu, susu dapat digantikan sementara dengan sumber protein lain yang diperbolehkan dalam pelaksanaan program.

Ia bahkan mengungkapkan sejumlah ritel mulai membatasi penjualan susu karena tingginya permintaan dari dapur MBG.

“Kadang kami juga setelah turun di lapangan, mereka mengatakan, ‘Pak, kalau misalnya ini kita ambil semua, masyarakat mau diberikan yang mana?’ Sehingga biasanya ini dijatah. Ada pasar-pasar atau ritel-ritel itu yang menjatah sekarang. Yang MBG sekian, yang masyarakat umum sekian,” katanya. Bg

Baca juga  Purbaya Tegaskan Aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam Berlaku Besok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *