TP PKK dan Pemkot Luncurkan BWSE Jilid V untuk Cegah Stunting

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, bersama Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya, kembali memperkuat upaya pencegahan stunting, melalui program Gebyar Bersama Wujudkan Surabaya Emas (BWSE), Eliminasi Masalah Stunting Jilid V. Program yang telah memasuki tahun kelima ini, menyasar 499 balita pra-stunting di Kota Pahlawan.

Peluncuran program dilakukan oleh Ketua TP PKK Surabaya Rini Indriyani, bersama Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, di Kantor TP PKK Kota Surabaya, Jalan Tambaksari No. 11, Surabaya, Sabtu (20/6). Kegiatan tersebut juga diikuti peserta dari 31 kecamatan dan 63 puskesmas, secara daring maupun luring.

Ketua TP PKK Surabaya Rini Indriyani mengatakan, BWSE merupakan program kolaboratif, yang melibatkan sejumlah perangkat daerah di lingkup Pemkot Surabaya. Mulai dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB), Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), serta Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo).

“Ini program tahun kelima, kami mengadakan kolaborasi dengan dinas yang terkait. Ada DP3APPKB, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian (DKPP) dan Dinas Kominfo,” kata Bunda Rini.

Menurutnya, sasaran program ini adalah anak-anak kategori pra-stunting, yakni balita yang belum mengalami stunting, namun memiliki risiko tinggi apabila tidak mendapatkan intervensi sejak dini. “Jadi dalam lomba ini kami menyisir anak-anak yang pra-stunting. Pra-stunting itu untuk yang dia belum stunting, tapi kalau diteruskan dia bisa menjadi stunting,” ujarnya.

Baca juga  Pemkot dan Pemprov Jatim Buka Layanan Bayar PKB-PBB di CFD

Melalui program tersebut, para peserta akan mendapatkan pendampingan selama dua bulan. Pendampingan mencakup pemberian telur, susu, dan ayam sebagai sumber protein, untuk menunjang pertumbuhan anak. Sementara bagi balita yang memiliki alergi telur, asupan akan diganti dengan sumber protein lain, seperti ikan atau daging. “Jadi kita dampingi selama dua bulan. Mereka diberikan susu, mereka diberikan telur setiap hari, mereka diberikan ayam untuk diolah sama ibunya,” jelasnya.

Bunda Rini menegaskan, BWSE tidak hanya berfokus pada pemberian makanan tambahan. Program ini juga memberikan edukasi, kepada orang tua terkait pengolahan makanan bergizi dan pola pengasuhan yang tepat. Setiap balita peserta akan didampingi oleh Tim Pendamping Keluarga, yang terdiri atas tenaga kesehatan, kader PKK, dan Kader Surabaya Hebat (KSH).

“Jadi satu anak tiga pendamping keluarga. Dari unsur nakes, dari unsur PKK, sama dari unsur Kader Surabaya Hebat,” katanya.

Selain itu, proses pendampingan dan penilaian, juga melibatkan berbagai pihak, yakni Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), unsur lingkungan keluarga, serta Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

IDAI bertugas memantau tumbuh kembang anak, HIMPSI menilai keterlibatan ayah dalam pengasuhan, sementara aspek lingkungan menitikberatkan pada kebersihan rumah dan penerapan pola hidup sehat keluarga. Adapun FKM memberikan pendampingan terkait pemberian makanan bergizi dan Makanan Pendamping ASI (MPASI), sesuai usia anak.

Baca juga  Wali Kota Eri Ajak Jagal Bersinergi di RPH Tambak Osowilangun

“Karena ternyata pengaruh ayah cukup besar, untuk perkembangan anak. Sehingga keterlibatan ayah ini dilihat nanti di dalam penilaian,” tutur Bunda Rini.

Dalam kesempatan itu, Bunda Rini juga mengungkap proses penjaringan peserta, telah dimulai sejak Mei 2026, melalui koordinasi dengan TP PKK tingkat kecamatan dan kelurahan. Peserta yang dipilih merupakan balita pra-stunting, tanpa penyakit penyerta sehingga dapat langsung mendapatkan intervensi. “Sasaran kegiatan ini ada 499 balita usia 6 sampai 59 bulan, dengan kriteria pra-stunting,” katanya.

Dari total 788 balita yang terdata, sebanyak 499 balita mengikuti program. Sementara 249 balita tidak mengikuti program, 14 balita memiliki penyakit penyerta, dan 26 balita berasal dari keluarga, dengan kartu keluarga non-Surabaya.

Bunda Rini menuturkan, sebagian orang tua memilih tidak mengikuti program, karena berbagai faktor. Mulai dari kesibukan bekerja, hingga enggan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, yang memerlukan komitmen selama dua bulan.

“Nah, saya minta mereka bikin surat pernyataan. Karena sebenarnya lomba ini kan buat mereka, buat anaknya juga, bukan buat kami, untuk perkembangan anaknya,” ujarnya.

Sebagai bagian dari BWSE Jilid V, TP PKK Surabaya juga bekerja sama dengan IDAI, untuk menggelar pemeriksaan kesehatan dan tumbuh kembang anak, di 59 titik puskesmas. Kegiatan tersebut melibatkan 63 dokter spesialis anak, serta mendapat dukungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair), HIMPSI, dan Poltekkes Kemenkes.

Baca juga  Wali Kota Instruksikan Evaluasi Total Pengerukan Proyek Box Culvert

“Kita bekerja sama dengan IDA, ada pemeriksaan kesehatan dan tumbuh kembang anak, di 59 titik puskesmas, dengan melibatkan 63 dokter spesialis anak,” katanya.

Bunda Rini berharap pendampingan yang dilakukan selama dua bulan tersebut, dapat membentuk kebiasaan baru bagi orang tua, dalam memenuhi kebutuhan gizi anak dan menerapkan pola pengasuhan yang tepat.

“Harapan kami ketika ini sudah dilakukan dua bulan ini akan menjadi habit, menjadi kebiasaan njenengan, sehingga ketika selesai lomba ini, njenengan sudah bisa melakukan itu secara rutin,” tuturnya.

Menurut dia, jangka waktu dua bulan dinilai cukup, untuk membangun kebiasaan positif dalam keluarga, mulai dari pola pemberian makanan bergizi, pengasuhan, hingga pemantauan tumbuh kembang anak, secara berkelanjutan.

“Harapan kami seperti itu. Sehingga dua bulan ini membawa dampak yang baik, buat njenengan (anda) sebagai seorang ibu, maupun seorang ayah untuk bisa memberikan gizi, yang terbaik buat anak-anak,” pungkasnya. (yunus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *