Tren konser di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Promotor semakin aktif menghadirkan musisi internasional karena melihat besarnya potensi pasar, terutama dari kalangan Generasi Z. Fenomena ini didorong tingginya penggunaan media sosial yang mempercepat penyebaran informasi dan membentuk minat terhadap hiburan.
Pakar Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, CI CDM QCRO AIBIZ CCC, menilai media sosial menjadi faktor utama tingginya antusiasme Gen Z terhadap konser.
“Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi penyelenggara konser. Pengguna internet dan media sosial yang tinggi membuat informasi mengenai konser sangat cepat menyebar, terutama di kalangan Generasi Z,” ujarnya, Ahad (26/7).
Konser sebagai Identitas dan Pengakuan Sosial
Menurut Prof. Gancar, banyak Gen Z menganggap konser sebagai bentuk self-reward atau investasi pengalaman. Namun ada tiga motif utama yang mendorong pembelian tiket konser: self-reward, motif hedonik, dan motif simbolik.
Motif self-reward muncul setelah seseorang merasa telah bekerja keras dan ingin memberi penghargaan pada diri sendiri. Motif hedonik mendorong pencarian kesenangan. Sementara motif simbolik berkaitan dengan keinginan memperoleh pengakuan sosial.
“Di era media sosial, motif simbolik semakin kuat karena banyak orang ingin memvalidasi status sosialnya melalui pengalaman menghadiri konser tertentu,” ucapnya.
Ia mengingatkan, pemasar dapat memanfaatkan ketiga motif tersebut untuk meningkatkan penjualan. Namun masalah muncul ketika konsumen memaksakan diri membeli tiket di luar kemampuan finansial hingga terjerat pinjaman online (pinjol) atau melakukan tindakan melanggar hukum.
FOMO dan Pentingnya Perencanaan Keuangan
Prof. Gancar menilai fenomena fear of missing out (FOMO) menjadi tekanan sosial besar bagi Gen Z. Keinginan mengikuti tren dan mendapat pengakuan lingkungan sering mendorong keputusan konsumsi impulsif.
Ia mencontohkan penggunaan layanan paylater dan pinjaman daring untuk membeli tiket konser. “Keputusan menjadi tidak rasional apabila kemampuan membayar tidak sebanding dengan besarnya utang. Kondisi tersebut bahkan dapat memicu kebiasaan menutup utang lama dengan pinjaman baru,” jelasnya.
Agar tetap dapat menikmati hiburan tanpa mengorbankan kesehatan finansial, Prof. Gancar menyarankan Gen Z menyusun anggaran bulanan secara disiplin. Ia merekomendasikan alokasi 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan sosial, 20 persen untuk hiburan, dan 10 persen untuk tabungan atau investasi.
“Dengan perencanaan yang baik, seseorang dapat mempersiapkan keinginan menonton konser jauh-jauh hari. Sehingga tidak berubah menjadi keputusan konsumsi yang impulsif,” pungkasnya. Bg







