Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan penutupan akses wisata taman nasional Bromo akibat kebakaran hutan dan lahan.
Kebijakan bersifat kondisional dan disesuaikan dengan tingkat ancaman kebakaran serta kebutuhan penanganan di lapangan.
Direktur Jenderal KSDAE Kemenhut Satyawan Pudyatmoko mengatakan, hingga Senin 10/8/2026 baru kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur yang menerapkan penutupan total.
“Penutupan taman nasional lain belum ada. Itu sangat kondisional di lapangan. Seperti Gunung Gede Pangrango kan cepat teratasi, Rinjani juga cepat teratasi, sehingga tidak ada penutupan,” kata Satyawan.
Menurutnya, Kemenhut tidak hanya mengandalkan penutupan kawasan. Saat ini pemantauan ditingkatkan melalui patroli keamanan di berbagai kawasan konservasi untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin.
Kemenhut juga memperkuat sosialisasi ke masyarakat sekitar hutan agar tidak menggunakan api sembarangan di musim kemarau. Pemeriksaan sekat kanal di lahan gambut juga dilakukan untuk mencegah lahan mengering ekstrem.
Satyawan menjelaskan penutupan total hanya dilakukan jika pemadaman membutuhkan penanganan darat secara masif. Tujuannya agar proses pemadaman efektif dan risiko terhadap pengunjung bisa ditekan.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB menemukan dua titik api baru pada Senin 10/8/2026.
Kepala BNPB Suharyanto menyebut dua titik berada di kawasan B30 perbatasan Kabupaten Probolinggo dan Malang. Tim juga masih menangani titik api di area lembah.
“Jadi sekarang masih dalam upaya pemadaman. Kemarin 34 titik, sekarang ada dua titik di B30 perbatasan Probolinggo-Malang, ada lagi di lembah. Mudah-mudahan hari ini bisa selesai,” kata Suharyanto di Jakarta.
Pemerintah memastikan kawasan belum akan dibuka kembali sebelum benar-benar dinyatakan aman dari ancaman kebakaran. (Ym)






