Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Muktamar ke-35 NU di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang mengerucut pada 7 nama.
“Ketujuh tokoh tersebut terbagi dalam tiga klaster berdasarkan visi dan rekam jejak,” tulis panitia Muktamar yang disiarkan Selasa (25/8).
Klaster Polarisasi Gagasan dan Kontinuitas
- KH Yahya Cholil Staquf
Ketua Umum PBNU petahana kelahiran 16 Februari 1966 ini telah menyatakan niat kembali maju pada 22 Juli 2026. Gus Yahya mengusung visi kontinuitas dengan fokus kemandirian organisasi, pematangan gagasan “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”, serta penguatan diplomasi global NU. - Prof. KH Nasaruddin Umar
Menteri Agama RI yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, lahir 23 Juni 1959. Ia membawa narasi harmoni keumatan dan mewakili irisan ulama-teknokrat. Dukungan dari sejumlah PWNU di luar Jawa menjadikannya simbol desentralisasi kepemimpinan NU.
Klaster Episentrum Pesantren Tradisional
- KH Abdul Hakim Mahfudz
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, kelahiran 17 Agustus 1958. Gus Kikin merepresentasikan otoritas historis Tebuireng dan menjadi simbol penjaga tradisi klasik NU. - KH Muhammad Yusuf Chudlori
Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, berusia 53 tahun. Gus Yusuf telah mendeklarasikan kesiapan maju setelah mendapat dukungan 23 PCNU di Jawa Tengah. Ia menyerap aspirasi akar rumput terkait kesejahteraan ekonomi dan dakwah kultural. - KH Abdul Ghaffar Rozin
Gus Rozin menyatakan kesiapan maju dalam silaturahim ketua PCNU se-Jawa Tengah pada Juli 2026. Ia mengusung paradigma pendidikan adaptif dengan menjembatani keilmuan kitab kuning dan profesionalitas modern.
Klaster Poros Regenerasi
- KH Zulfa Mustofa
Wakil Ketua Umum PBNU kelahiran 7 Agustus 1977. Dikenal dengan penguasaan ilmu fiqih dan syair Bahasa Arab spontan, ia menawarkan perpaduan intelektualitas klasik dan tata kelola organisasi lincah. - KH Abdussalam Shohib
Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, berusia 49 tahun. Gus Salam menyuarakan pentingnya check and balances internal agar NU tidak terjebak pragmatisme politik dan tetap berpihak pada prinsip keadilan serta maslahah ammah.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan menjadi forum penentuan nahkoda PBNU untuk lima tahun ke depan. Kontestasi ini dinilai tidak hanya sebagai persaingan figur, tetapi juga adu visi antara keberlanjutan program, penguatan akar pesantren, dan urgensi regenerasi kepemimpinan. Bg












