425 Warga Surabaya Raih Penghargaan Setelah Donor Darah 50 Kali

Semangat kemanusiaan dan gotong royong warga Surabaya, kembali terlihat dalam peringatan Hari Palang Merah Indonesia (PMI) ke-81. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama PMI Kota Surabaya, memberikan penghargaan kepada 425 Donor Darah Sukarela (DDS), yang telah mendonorkan darah sebanyak 50 kali.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian peringatan Hari PMI ke-81 di Gedung Sawunggaling Surabaya, Kamis (17/9). Dari 425 pendonor yang menerima penghargaan, sebanyak 397 merupakan laki-laki dan 28 perempuan. Kecamatan Gubeng menjadi wilayah dengan jumlah penerima terbanyak, yakni 29 pendonor. Sementara itu, dua penerima penghargaan tercatat memiliki golongan darah rhesus negatif.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya sekaligus Ketua PMI Kota Surabaya Lilik Arijanto mengatakan, penghargaan tersebut bukan sekadar bentuk apresiasi, atas konsistensi para pendonor, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya kepedulian terhadap sesama.

“Lima puluh kali donor bukanlah sesuatu yang sederhana. Di balik setiap kali donor, ada waktu yang diluangkan, ada kepedulian yang dijaga, dan ada komitmen untuk membantu sesama,” kata Lilik.

Menurut dia, aksi donor darah merupakan bentuk nyata kemanusiaan, yang dapat dilakukan masyarakat tanpa harus menunggu, melakukan sesuatu yang besar. Sebab, darah yang disumbangkan dapat menjadi bagian penting, dalam membantu pasien yang membutuhkan transfusi.

Baca juga  Waspada Kemarau Ekstrem, Pemkot Surabaya Gencarkan Edukasi Pencegahan Kebakaran

“Kita menolong bukan karena mengenal siapa yang ditolong. Kita menolong karena kita tahu, suatu saat siapa pun dari kita bisa berada di posisi yang membutuhkan pertolongan,” ujarnya.

Lilik menyebut semangat tersebut sejalan dengan tema peringatan Hari PMI ke-81, yakni “Peduli, Bergerak, Bersama”. Peduli dimaknai sebagai kehadiran untuk membantu sesama, bergerak dengan mewujudkan kepedulian dalam tindakan nyata, serta bersama-sama karena kemanusiaan merupakan tanggung jawab semua pihak.

Ia berharap donor darah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan terus tumbuh menjadi budaya kepedulian di tengah masyarakat Surabaya.

“Surabaya bukan hanya kota yang maju secara pembangunan, tetapi juga harus menjadi kota yang kuat rasa kemanusiaannya. Kota yang warganya tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga peduli ketika ada orang lain yang membutuhkan,” tuturnya.

Ia menegaskan, kolaborasi antara pemerintah, PMI, relawan, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat, menjadi kekuatan penting dalam menjaga pelayanan kemanusiaan di Kota Surabaya.

“Kepada 425 penerima penghargaan donor darah sukarela 50 kali, saya mengucapkan terima kasih. Jadikan penghargaan ini bukan sebagai akhir dari pengabdian, tetapi sebagai pengingat bahwa kebaikan yang kita lakukan, telah memberikan arti bagi kehidupan orang lain,” kata dia..

Sementara itu, Wakil Ketua PMI Kota Surabaya, Taufik Rohman Hidayat mengatakan, animo masyarakat untuk mendonorkan darah cukup tinggi. Setiap bulan, PMI Kota Surabaya rata-rata melayani sekitar 12.000 pendonor.

Baca juga  Pemkot Gandeng 102 PT dan Akademi Dampingi 1.360 RW di Kampung Pancasila

Jumlah tersebut, kata dia, telah disesuaikan dengan kebutuhan darah rumah sakit di Surabaya. PMI tidak sekadar mengejar jumlah pendonor sebanyak-banyaknya, tetapi juga mengatur ritme donor agar ketersediaan darah, tetap seimbang dengan kebutuhan.

“Target kita setiap bulan sekitar 12.000 pendonor. Angka tersebut sudah disesuaikan dengan kebutuhan darah di Surabaya. Sebenarnya animo masyarakat untuk mendonorkan darah sangat tinggi, bahkan potensinya lebih dari 12.000 pendonor per bulan,” kata Taufik.

Pengaturan tersebut diperlukan karena darah yang terkumpul, dalam jumlah jauh melebihi kebutuhan berpotensi tidak terpakai. Karena itu, PMI mengatur jadwal donor bagi sebagian pendonor, agar stok darah tetap tersedia secara optimal.

Taufik mengatakan, PMI juga memiliki jaringan pendonor khusus untuk golongan darah tertentu, yang ketersediaannya lebih terbatas. Mereka tidak selalu diarahkan untuk melakukan donor setiap saat, tetapi dipertahankan dalam jaringan yang dapat dihubungi, ketika ada kebutuhan mendesak.

“Ketika sewaktu-waktu ada pasien atau rumah sakit yang membutuhkan golongan darah tertentu, kami bisa menghubungi mereka melalui sistem on call. Mereka siap membantu. Kami memang memiliki jaringan pendonor seperti itu,” ujarnya.

Kebutuhan darah di Surabaya yang relatif stabil juga membuat PMI, mampu memberikan dukungan ketika terjadi kebutuhan di wilayah lain. Taufik menyebut PMI Kota Surabaya pada beberapa kesempatan, pernah membantu memenuhi kebutuhan darah, hingga ke luar Jawa, khususnya wilayah Indonesia timur.

Baca juga  Pemkot Tingkatkan Fasilitas Publik, Penerangan hingga Toilet Taman Jadi Perhatian

Selain pelayanan donor darah, PMI Kota Surabaya sepanjang 2026 juga menjalankan berbagai kegiatan kemanusiaan. Berdasarkan laporan PMI, organisasi tersebut bersama Pemkot Surabaya telah membantu menangani 1.896 korban kecelakaan
kendaraan bermotor, 95 korban kebakaran, memberikan 240 bantuan medis, serta melakukan 102 evakuasi jenazah, melalui unit reaksi cepat 112.

“PMI Kota Surabaya juga terlibat dalam respons terhadap bencana, di sejumlah daerah. Bantuan antara lain diberikan untuk pembangunan fasilitas MCK di Aceh, serta penanganan bencana Gunung Semeru,” imbuhnya.

Dalam penanganan insiden kecelakaan laut KM Virgo Transport 8 di Pelabuhan Tanjung Perak, PMI Kota Surabaya turut membuka posko layanan Restoring Family Links (RFL) dan Psychological First Aid (PFA), untuk membantu keluarga serta penyintas yang terdampak.

“Di sisi lain, PMI terus memperkuat kapasitas sumber daya manusianya. Saat ini terdapat sekitar 1.500 anggota Palang Merah Remaja (PMR) tingkat Mula, Madya, dan Wira yang dibina PMI Kota Surabaya. Selain itu, terdapat sekitar 300 relawan Korps Sukarela (KSR), serta 100 relawan Tenaga Sukarela (TSR) aktif dari berbagai bidang keahlian,” pungkasnya. (yunus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *