Geliat Airlangga Paparkan Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2023

Geliat Airlangga memaparkan hasil program kerjasama antara Universitas Airlangga (Unair) dan  UNICEF  untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di Jawa Timur. Bertempat di Hotel Swiss Bellin Juanda Sidoarjo, diseminasi ini digelar selama dua hari, mulai Senin sampai Selasa (26-27/6). Diseminasi itu juga dihadiri dari dinas kesehatan beberapa kabupaten kota di Jawa Timur.

Program Focal Point Geliat Airlangga Prof Nyoman Anita Damayanti menuturkan, ada empat fokus lokasi khusus meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Mulai Kota Surabaya, Kabupaten Jember, Kabupaten Jombang dan Kabupaten Bojonegoro. “Kita fokus khusus kesehatan ibu dan anak,” ujar Prof Nyoman Anita ketika memaparkan.

Program kerja sama tersebut dimulai dari tahun 2022 berakhir Juni tahun 2023. Diuraikan, ada tiga output besar yang dihasilkan. Diantaranya kesehatan materi ibu dan anak. Yang didalamnya terdiri dari audit maternal perinatal surveillance response. Yaitu terkait dengan bagaimana pencatatan pelaporan dan juga rekomendasi dari angka-angka kematian ibu dan anak di masing-masing kabupaten kota. Kemudian ada triple eliminasi. Triple eliminasi ini, merupakan eliminasi dari penyakit menular. “Jadi harapannya memutus mata rantai penularan dari ibu ke anak. SepertiĀ  sipilis dan juga hepatitis,” terangnya.

Baca juga  Cegah Gula Berlebih, Kemenkes Wajibkan Pencantuman Gizi Nutri Level di Minuman Pemanis

Output selanjutnya yaitu pencegahan penyakit menular pada anak. Pencegahan TBC, kemudian imunisasi serta peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak dikala terjadi bencana.

UNICEF Indonesia Dr Armunanto menjelaskan, kegiatan siang itu merupakan refleksi program kerjasama yang sudah berjalan pada bulan Juni 2023. Menurutnya Jawa Timur masih perlu berbenah untuk mencegah angka kematian ibu dan bayi. Agar, sambungnya, angka kematian ibu dan kematian bayi yang masih cukup tinggi itu bisa diatasi bersama-sama.

“Karena dengan kita berkolaborasi, upaya merealisasikan penurunan AKI dan AKB dengan jumlah penduduk Indonesia Jawa Timur, perlu banyak lembaga atau organisasi yang ikut bersama-sama dalam rangka menurunkannya,” jelasnya.

Bahkan, tegas Armunanto, pemerintah daerah harus menggandeng semua lembaga yang konsen terhadap AKI dan AKB di wilayah Jawa Timur. Armunanto mengamati, tenaga kesehatan saat ini dari sisi jumlahnya cukup. Tetapi distribusinya tidak merata. Seperti kebutuhan di Puskesmas, itu ada sembilan jenis profesi yang bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tapi ternyata tidak semua Puskesmas tersedia. Apalagi rumah sakit rujukan memadai hanya terjadi di kota-kota besar. Yang mana hanya di wilayah Jawa Timur itu seperti Surabaya Malang. Sehingga kabupaten kota yang seperti di daerah kepulauan belum mendapatkan layanan dari tenaga kesehatan yang memadai.

Baca juga  Cegah Gula Berlebih, Kemenkes Wajibkan Pencantuman Gizi Nutri Level di Minuman Pemanis

“Itu merupakan tantangan yang harus kita hadapi. Yang kita perbaiki bersama-sama tentu saja dari sisi yang lain,” ungkapnya.

Meski demikian Armunanto mengaku berbangga karena akses untuk pelayanan kesehatan di Jawa Timur sudah cukup bagus. Terlihat dari kematian ibu maupun kematian bayi terjadi di rumah sakit. “Artinya masyarakat sudah sadar akan pelayanan kesehatan. Hanya saat ini bagaimana kita meningkatkan agar ibu dan bayi tadi yang sudah di rumah sakit atau tempat rujukan itu bisa selamat sehat. Akhirnya kesejahteraan bisa kita dapatkan bersama,” tegasnya. (Ra/foto-foto: Bagus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *