Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren-pesantren mengeluarkan panduan pencegahan Coronavirus Desease (Covid-19).
Panduan tersebut disampaikan ke seluruh pesantren Indonesia melalui Surat Edaran Nomor: 835/A/PPRMI/SE/III/2020 tentang Protokol Pencegahan Penyebaran Coronavirus disease (Covid-19) pada Pondok Pesantren.
Cek Suhu Badan
Ketua RMI KH Abdul Ghaffar Razin menghimbau kepada pesantren di seluruh Indonesia agar mengecek semua orang yang masuk ke pesantren, baik guru, tamu, santri, wali santri.
“Harus dicek suhu panas badannya menggunakan thermometer inframerah genggam atau yang dikenal dengan thermometer tembak,” tuturnya dalam keterangan tertulis.
Jika suhu badan tamu, guru, santri, wali santri melebihi dari 37,3 derajat celcius, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan masuk ke area pesantren.
Selain itu, semua orang yang masuk ke pesantren, baik guru, tamu, santri, wali santri, harus cuci tangan menggunakan sabun atau disinfektan yang telah disediakan.
“Pesantren menyediakan tempat cuci tangan dan sabun di setiap pintu masuk pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, dan asrama, masjid, musholla, dan rumah pengasuh dan asatidz,” terangnya.
Di setiap pintu masuk pesantren juga diberikan informasi tatacara cuci tangan yang benar dan dikontrol pelaksanaannya baik oleh sesama santri ataupun asatidz.
Monitoring Kesehatan
Menurut KH Abdul, pesantren harus absensi dan monitor kesehatan santri secara rutin baik di kelas, asrama, maupun dalam aktivitas lainnya. Bahkan kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang, terutama masyarakat umum, perlu ditunda untuk sementara waktu.
“Juga perlu menyediakan ruang isolasi yang dapat digunakan oleh guru, santri dan pengurus pesantren jika mengalami flu, batuk, demam; gangguan pernafasan, sakit tenggorokan, dan badan terasa letih.
Jika setelah mendapatkan penanganan, gejala-gejala tersebut tidak segera reda, tegas KH Abdul maka pesantren harus segera merujuk yang bersangkutan ke rumah sakit terdekat.
Pesantren perlu bekerjasama dengan dengan puskesmas, rumah sakit, dan tim medis untuk terus memantau kondisi kesehatan santri, ustadz, dan pengurus pesantren
Sebagai upaya pencegahan, pesantren perlu menggalakkan aktivitas yang dapat meningkatan imunitas tubuh santri, asatidz, dan pengurus pesantren, dan mengkonsumsi vitamin C;
“Mari membaca qunut nazilah, sholawat tibbil qulub dan doa tolak bala sebagai ikhtiar kita kepada Allah SWT agar pesantren dan seluruh bangsa Indonesia terselamatkan dari virus dan bencana ini,” ajak dia.01/ Bagus.









