Oleh
Amirsyah Tambunan
Wakil Sekjen MUI Pusat
Dalam kehidupan manusia dunia ini orang-orang yang beriman tidak akan luput dari ujian dari Allah Subhana wata’ala. Dalam menghadapi ujian tersebut orang-orang yang beriman tentu harus meningkatkan kesabaran.
Ujian yang datang dari Allah tersebut tentunya beraneka ragam, tidak hanya satu jenis ujian. Allah memberikan ujian dengan rasa takut, terhadap bencana atau wabah yang melanda atau diuji dengan rasa lapar karena krisis ekonomi dan sebagainya.
Bangsa Indonesia saat ini tengah mendapat ujian berat di tengah wabah covid 19. Berdasarkan data pemerintah hingga Jumat (17/4/2020) pukul 12.00 WIB, terdapat penambahan 24 pasien Covid-19 yang tutup usia di Tanah Air. Penambahan ini menyebabkan jumlah total meninggalnya pasien Covid-19 ada 520 orang.
Masih banyak yang belum diketahui ibarat fenomena gunung es. Apakah hal akan meningkat ? Jawabannya tergantung kita, melalui tiga hal, ikhtiar, doa dan tawakkal sudahkah optimal kita lakukan ?
Dalam hadis Nabi bahwa tawakkal yang benar, Allah telah menciptakan sebab dan akibatnya. Manusia harus menempuh sebab dan melakukan usaha untuk mendapatkan hasilnya nanti.
Perhatikan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai “tawakalnya burung”.
ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ
“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ (HR.Tirmidzi, hasan shahih).
Untuk menguji tingkat ikhtiar dan tawakkal secara umum Allah telah mengisyaratkan secara garis besar ujian tersebut dalam firman-Nya :
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ
Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah 155).
Begitulah, orang-orang beriman di satu sisi diuji dengan kesenangan dan disisi lain dengan kesedihan. Ketika diuji dengan kesenangan, hendaklah meningkatkan rasa syukur, dan ketika diuji dengan kesedihan atau penderitaan maka hendaknya semakin mendekatkan diri kepada Allah meminta pertolongan dan perlindungan-Nya.
Maka kesimpulannya ujian itu terbagi dua, yaitu ujian berupa kesenangan dan kesedihan. Sebagaimana Allah firmankan :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Artinya: Setiap yang bernyawa pasti akan mati Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (QS Al-Anbiya 35).
Tegasnya adakalanya ujian itu dengan musibah dan adakalanya dengan nikmat, agar Allah dapat melihat siapakah yang bersyukur dan siapakah yang ingkar, siapakah yang bersabar serta siapakah yang berputus asa.
Kadang diuji dengan kesengsaraan, kadang dengan kemakmuran, sehat dan sakit, kaya dan miskin, halal dan haram, taat dan durhaka, serta petunjuk dan kesesatan.
Sebaliknya jika manusia tidak sadar sedang di uji Allah, maka sebaliknya manusia akan mendapat siksa Allah
فَذَرْنِى وَمَن يُكَذِّبُ بِهَٰذَا ٱلْحَدِيثِ ۖ سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.
Tafsir Quran Surat Al-Qalam Ayat 44
Maka biarkanlah Aku -wahai Rasul- bersama orang yang mendustakan Al-Qur`ān yang diturunkan kepadamu. Kami akan menggiring mereka menuju siksa sedikit demi sedikit tanpa mereka sadari bahwa itu adalah tipu daya terhadap mereka dan tahapan-tahapan menuju siksa bagi mereka. Sejalan dengan ayat tersebut Allah mengingatkan dalam Qs. Al Anfal 25.
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.
Intinya peliharalah diri kalian daripada siksaan jika siksaan menimpa kalian, ia tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, bahkan siksaan itu merata kepada mereka dan selain mereka. Dan cara untuk memelihara diri supaya jangan tertimpa siksaan ialah membenci penyebabnya, yaitu perkara mungkar. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya terhadap orang-orang yang melanggar perintah dan larangan-Nya.
Dalam konteks itulah sebagai orang beriman wajib memelihara diri (beriman dan bertaqwa) agar Allah memberikan hikmah Nya.
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya:
Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). Qs. Al Baqarah 269.
Kita semua berharap semoga wabah covid 19 merupakah musibah dimuka bumi ini membawa hikmah bagi kita.






