Oleh:
Amirsyah Tambunan
Wakil Sekjen MUI Pusat
Menteri Agama Fachrul Razi menetapkan asumsi jumlah jemaah haji Indonesia pada 2020 sebanyak 231 ribu. Angka ini diperoleh berdasarkan kuota dasar jamaah haji 2020 sebanyak 221 ribu ditambah kemungkinan tambahan 10 ribu jamaah.
Pada umumnya jamaah haji bertanya tanya apakah tahun ini jamaah haji akan berangkat haji dalam suasana wabah Covid 19?
Hal ini tergantung pada perkembangan wabah Covid 19 kedepan? Semua pihak tentu berharap dan berdoa semoga wabah Covid 19 segera berlalu, sehingga jamaah haji bisa berangkat.
Seperti kita ketahui bersama bahwa penyelenggaraan haji umat seluruh dunia telah mengalami berbagai bentuk wabah yang pernah terjadi, yakni:
Pertama, Thaun pada 1814 sebuah wabah melanda Arab Saudi, termasuk di Mekkah dan Madinah. Tak diketahui dengan pasti nama wabah ini. Namun Kerajaan Arab Saudi mencatatnya sebagai wabah thaun. Sebenarnya thaun juga memiliki arti wabah dalam bahasa Arab dan mulai dikenal setelah menimpa tanah Hijaz pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab dengan skala lebih kecil. Akibat wabah thaun ini, 8.000 orang tercatat meninggal dunia dan ka’bah harus ditutup sementara.
Kedua, wabah India terjadi pada 1831. Penamaan wabah ini karena dipercayai datang dari India. Besar kemungkinan adalah kolera, karena pada tahun itu tengah berlangsung gelombang ketiga kolera yang bermula dari India. Wabah India terjadi di tengah pelaksanaan ibadah haji. Sekitar tiga perempat jamaah meninggal dunia dan pelaksanaan ibadah haji akhirnya disudahi di tengah jalan sebelum masanya habis.
Ketiga, wabah 1837 tak ada jumlah pasti korbannya. Namun akibat wabah ini pelaksanaan ibadah haji harus ditiadakan sampai tiga tahun sesudahnya. Wabah Kolera 1846-1892. Kolera yang oleh WHO akhirnya ditetapkan sebagai epidemi tercatat menghantam Arab Saudi.
Keempat, ibadah haji pada 1850, 1865 dan 1883 harus ditiadakan. Begitupun pada 1858 wabah ini menyebabkan banyak penduduk Arab Saudi mengungsi ke Mesir dan membangun karantina kesehatan di daerah Bir Anbar. Selama rentang waktu itu ibadah haji pernah dilakukan pada 1864 dan hasilnya 1000 jamaah meninggal per hari. Dalam keadaan ini, Mesir mengirim dokter dalam jumlah besar ke Arab Saudi untuk menyelamatkan nyawa warganya.
Kelima, wabah meningitis ketika ibadah haji ditiadakan pada 1987. Saat itu wabah meningitis melanda Arab Saudi menjelang pelaksanaan ibadah haji. Cepatnya penyebaran penyakit ini membuat 10 ribu calon jamaah haji yang telah tiba terinfeksi.
Keenam, menjadi pertanyaan banyak pihak apakah asal-usul Virus Corona Covid-19 dari Alam atau Laboratorium? Hal ini terus menjadi perdebatan. Banyak yang berpendapat asal virus corona yang mulai merebak di Wuhan, China, Desember 2019. Pada awal kemunculannya, beredar kabar virus corona SARS-CoV-2 berasal dari hewan, yakni kelelawar, dan belakangan, dikabarkan juga muncul dari tenggiling.
Seperti dilansir dari Liputan 6, dua negara adidaya di dunia, Amerika Serikat dan China, sempat terlibat saling tuding perihal asul-usul virus corona jenis baru ini.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut virus ini berasal dari China. Sementara, sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian, mengatakan tentara Amerika Serikat yang membawa epidemi tersebut ke Wuhan.
Kini, muncul sebuah pencerahan. Ada sebuah penelitian baru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Medicine.Penelitian itu menunjukkan tidak ada bukti virus corona SARS-CoV-2 diciptakan manusia alias hasil kreasi di laboratorium.
Kristian Andersen PhD, Associate Professor Imunologi dan Mikrobiologi di Scripps Research, mengatakan mereka membandingkan data sekuens genom yang tersedia untuk strain coronavirus yang telah diketahui.
Para peneliti yang dipimpin Shan-Lu Liu di Ohio State University mengatakan, tidak ada bukti kredibel virus ini dibuat secara genetik. Jadi, menurutnya, mereka sudah mengurutkan genom virus ini. Virus Corona merupakan keluarga besar (famili) dari virus yang dapat menyebabkan penyakit dengan tingkat keparahan yang luas.
Sementara, para peneliti telah mengurutkan genom virus ini, dan membandingkannya dengan virus SARS dan MERS.
Menurut Shan-Lu Liu, SARS dan MERS berasal dari kelelawar. Jadi, tidak mungkin Corona merupakan virus buatan manusia yang dibuat di dalam laboratorium. Peneliti yakin virus corona berasal dari alam dan bukan buatan manusia.
Kewajiban Haji
Pernyataan yang kemudian muncul bagaimana penyelenyenggaraan haji 2020 ditengah pandemi Covid 19 ?
Allah menjelaskan dalam al Qur’an bahwa kewajiban haji dilakukan bagi orang yang mampu baik secara fisik maupun mental. Kemampuan terkait dengan kesehatan baik secara pribadi maupun kolektif. Kesehatan bersama (kolektif) merupakan syarat mutlak karena menyangkut kemaslahatan umat dan suatu bangsa. Tugas kita saat ini harus disiplin, patuh pada aturan, sehingga wabah segera berlalu. Kewajiban haji pun dapat kita tunaikan.
Di antara dalil yang dijadikan dasar kewajiban haji oleh umat Islam adalah surah Ali Imran ayat 97 berikut;
وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.
Akhinya kita wajib berikhtiar, berdoa dan bertawakkal kepada Allah semoga musibah yang menimpa bangsa Indonesia semoga wabah Covid 19 segera berlalu, sehingga ibadah haji dapat berjalan sesuai rencana.
Dikutip dari berbagai sumber, penulis juga dosen Pasca Sarjana FAI Univ. Muhammadiyah Jakarta.






