Setelah adanya penerapan belajar dari rumah tau pendidikan jarak jauh (PJJ), sebagian besar siswa menilai model pembelajaran ini cenderung membuat tidak nyaman dan kurang bahagia.
Materi Tak Dijelaskan
Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti, menjelaskan, pihaknya telah melakukan survei terhadap 1.700 siswa berbagai jenjang pendidikan pada 13-20 April 2020.
Ada 76,7 persen di antaranya mengaku tidak senang mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hanya 23,3 persen responden yang menganggap PJJ mengesankan.
“Alasan siswa tidak senang PJJ beraneka ragam. Sebanyak 81,8 persen responden mengaku PJJ empat pekan hanya diberikan tugas oleh guru, bahkan jarang ada penjelasan materi dan diskusi,” tuturnya Rabu (29/4/2020).
Kemudian sebanyak 73,2 persen responden merasa mendapat tugas berat dari guru.
Menurut Retno, dikatakan berat karena siswa diberi waktu yang pendek saat menyelesaikan tugas.
Kemudian 44,1 persen responden menyebut hanya diberikan waktu 1-3 jam sehari. Sebanyak 34,2 persen responden menyebut diberikan waktu mengerjakan 3-6 jam sehari.
Merangkum

Bentuk-bentuk penugasan yang paling tidak disukai responden, lanjut Retno, adalah membuat video materi pelajaran, diikuti menjawab banyak soal, merangkum materi, dan menuliskan soal yang ada dalam buku cetak.
Terkait peralatan selama PJJ, sebanyak 95,4 persen responden mengaku menggunakan ponsel pintar, 23,9 persen memanfaatkan komputer jinjing, dan 2,4 persen komputer.
Survei turut menanyakan kesulitan yang dihadapi responden selama PJJ. Sebanyak 77,8 persen responden mengaku kesulitan utama adalah tugas menumpuk. Lalu, 37,1 persen responden menyebut sukar beristirahat karena waktu pengerjaan tugas yang pendek. Sekitar 42,2 persen responden menjawab kesusahan kuota internet.
“Survei KPAI bertujuan mengetahui persepsi siswa selama PJJ. Sebelum survei dilakukan, KPAI telah menerima sekitar 246 pengaduan keluhan negatif PJJ dari orangtua dan siswa dari berbagai jenjang pendidikan sejak PJJ mulai diberlakukan sekitar 16 Maret 2020. Baik pengadu maupun responden berasal dari 54 kabupaten/kota dari 20 provinsi,” urainya.
Teknik pengumpulan data untuk survei adalah kuesioner yang diberikan melalui aplikasi Google Forms.
Retno mengatakan, survei turut menanyakan usulan siswa terkait PJJ, di antaranya mengurangi tugas, waktu pengerjaan tugas diperpanjang, dan guru memberikan penjelasan daring.
Sebanyak 52,8 persen responden mengusulkan kepada pemerintah agar menggratiskan internet karena PJJ cenderung lebih banyak memakai metode daring yang menghabiskan kuota.
Retno mengakui, sebelum ada PJJ, pembelajaran di kelas masih ada yang cenderung tidak nyaman dan menyenangkan bagi siswa. Ketika PJJ, suasana tersebut tetap terbawa. Persepsi siswa yang disurvei memperlihatkan, tugas guru seolah-olah selesai ketika memberikan tugas mata pelajaran.
Menurut Retno, di tengah pembatasan sosial karena pandemi Covid-19, saling empati menjadi amat penting.
“Guru tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena mereka pun mempunyai persepsi sendiri terkait PJJ. Kondisi siswa dan keluarganya yang heterogen juga semestinya dipahami juga,” tegasnya. 01/Bagus








