by

Ramadhan : Tadarus Keluarga

Oleh
Amirsyah Tambunan
Wakil Sekjen MUI Pusat

Ramadan merupakan momentum yang dirindukan seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia. Salah satu tradisi di bulan Ramadhan adalah tadarus yang dilakukan di masjid atau musala, tapi juga di rumah.

Banyak muslimin yang membaca Al-Quran dari awal hingga khatam, tapi ada juga yang melanjutkan kebiasaan tadarus setelah salat fardu bahkan dalam berbagai kesempatan di kendaraan, dll.

Istilah tadarus yang lazim dilakukan saat ini adalah berbentuk sebuah majelis di mana para pesertanya membaca Al-Quran bergantian. Satu orang membaca dan yang lain menyimak.

Sedangkan dari makna bahasa, tadarus berasal dari asal kata darosa-yadrusu, yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji, dan mengambil pelajaran. Lalu ketambahan huruf ta’ di depannya sehingga menjadi tadaarosa-yatadaarosu, maka maknanya bertambah menjadi saling belajar atau mempelajari secara lebih mendalam, sehingga paham dan dapat melaksanakan ayat tersebut.

Sayangnya ‘tadarusan’ yang sering dijumpai, sepertinya nyaris tanpa pengkajian makna tiap ayat, yang ada hanya sekadar membaca saja. Terkadang benar dan tidaknya bacaan tidak terperhatikan karena tidak ada ustadz yang ahli di bidang membaca Al-Quran yang bertugas mentashih bacaan.

Baca juga  Berkonsep Virtual, Surabaya Art And Culture Festival 2021 Suguhkan Representasi Sejarah Kota Pahlawan

Bentuk tadarusan seperti itu lebih tepat menggunakan istilah tilawah wal istima’. Kata tilawah berarti membaca, dan kata istima’ yang berarti mendengar.

Kalau para peserta sudah fasih dan menguasai teknik membaca Al-Quran yang baik, maka tidak mengapa bila masing-masing membaca sendiri-sendiri.

Kalaupun mau disima’ (didengarkan) juga tidak mengapa. Karena membaca dan mendengar sama-sama mendatangkan pahala.

Pada momentum Ramadhan penuh kebahagiaan ayah, ibu, anak dan segenap keluarga ini, kita juga dapat saling ngobrol dan curhat membicarakan hal-hal seputar masalah keluarga. Juga menjadi kesempatan untuk berbagi cerita kebaikan, saling memberi nasihat, yang selama ini jarang dilakukan, karena kesibukan masing-masing.

Ditengah pandemi Covid 19 tidak ada kendala melakukan tadarus, bahkan semakin meningkatkan kesungguhan lewat daring. Ini salah satu keunikan adanya kebersamaan yang menghangatkan komunikasi keluarga.

Bertadarus Al-Quran juga menjadi lebih sering dibandingkan hari-hari yang lain. Sang ayah sudah berapa juzkah? Ibu berapa juz? Dan anak-anak mungkin bisa lebih banyak lagi. Bagi anak yang sudah khatam, layak diberi hadiah sebagai motivasi dan apresiasi.

Baca juga  Peduli Pendidikan Siswa MBR, Stakeholder di Surabaya Gotong-royong Beri Donasi Melalui CSR

Begitulah suasana saling berlomba bertadarus Al-Quran bagi keluarga-keluarga Muslim. Sungguh membahagiakan, berkah Ramadhan.

Hal ini diharapkan dapat mengatasi orang orang yang paranoid (Parno) akibat virus Corona yang diumumkan setiap hari di berbagai media.

Untuk itu selama pandemi Covid 19, kita harus betah tinggal dirumah. Karena banyak masalah keluarga yang harus kita selesaikan di rumah. Dalam masalah keluarga ini, Rasulullah Shallallau ‘Alaihi Wasallam memberikan teladan terbaik, tanggung jawab, perhatian dan kepedulian terhadap keluarga. Sabdanya:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى

Artinya: Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah Shallallau ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR At-Tirmidzi).

Memang tidak ada keluarga yang sempurna. Namun semuanya tak sempurna tanpa kehadiran keluarga. Menjadi pertanyaan yang menarik dalam keluarga. Pertama, kepada siapa kita dapat berkumpul, bercerita, bercengkerama akrab, bahkan kadang saling iseng? Kecuali dengan keluarga sendiri.

Baca juga  Awasi dan Ingatkan Prokes, Wali Kota Surabaya Minta Petugas Jangan Asal Obrak Pedagang

Kedua, siapakah yang memperhatikan darah daging kita tempat berbagi nasihat dan pertolongan? Tidak ada, kecuali keluarga.

Mari kita kembali ke pondasi keluarga. Saatnya memperkuat landasan akidah, tauhid, contoh akhlak, praktik ibadah dan nilai-nilai kebajikan di dalam rumah tangga.

Keluarga menjadi sarana dakwah untuk membina kebersamaan keluarga pada bulan suci Ramadhan 1441 H tahun ini. Semoga momentum terbaik pembinaan keluarga sakinah mawaddah warahmah ini dapat kita raih pada bulan suci Ramadhan ini. Aamiin.

*) Pengalaman tadarus lewat daring selama sepekan bersama keluaraga di bulan Ramadhan 1441 H.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed