Multi Bintang Indonesia Gelar Sarasehan Budidaya Sorgum di Mojokerto

Multi Bintang Indonesia bersama Yayasan Esa Khatulistiwa dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar Sarasehan sosialisasi Budidaya Sorgum di desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Selasa (30/8/2022).

Sarasehan tersebut dihadiri pemerintah daerah, peneliti, pengusaha, dan petani
dengan tema “Ketahanan Pangan dan Keanekaragaman Hayati Sorgum” guna
mensosialisasikan potensi pengembangan sorgum sebagai solusi alternatif untuk intensifikasi produksi tanaman pangan di lahan-lahan kering atau marjinal di Mojokerto.

Sosialisasi ini mengupas dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan oleh petani di Mojokerto. Sebab lahan-lahan tadah hujan yang belum terlayani irigasi sudah mengalami
kekeringan.

Sejak Oktober 2021, Yayasan Esa Khatulistiwa bermitra dengan ITS dan MBI untuk melakukan ujicoba pengembangan budidaya tanaman sorgum di Mojokerto sebagai upaya
intensifikasi dan diversifikasi komoditas pangan guna menjaga stabilitas pangan nasional. Sorgum menjadi tanaman yang dipilih karena dapat diusahakan pada lahan kering dan memiliki potensi untuk mensubstitusi peranan beras sebagai bahan pangan pokok atau mensubstitusi peranan tepung terigu atau tepung gandum sebagai bahan baku produk makanan olahan.

Baca juga  Khofifah Lepas 380 Jemaah Haji Kloter 1 Embarkasi Surabaya Menuju Tanah Suci

“Di Multi Bintang Indonesia, kami menyadari bahwa keberlanjutan lingkungan tidak hanya
berbicara mengenai pelestarian alamnya saja, melainkan keterlibatan masyarakat sekitarnya.
Kami melihat program pengembangan sorgum memiliki potensi besar sebagai solusi kreatif
dan inovatif untuk mengoptimalkan sumber daya dan melibatkan komunitas lokal dalam upaya peningkatan stabilitas pangan dan penyelamatan keaneragaman hayati,” ujar Ika Noviera, Direktur Hubungan Korporasi Multi Bintang Indonesia.

Sepanjang 2021-2022, kemitraan ini sudah berhasil melakukan ujicoba dengan empat jenis varietas sorgum, yaitu KD4, Numbu, Kawali dan Bioguma di lahan seluas 2,5 Ha di Kecamatan Trawas, Kecamatan Ngoro, Kecamatan Dawarblandong, Kecamatan Jatirejo dan Kecamatan Kemlagi.

Program tersebut masih memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan, di mana lahan kering di Mojokerto masih cukup luas, yakni sekitar 18 ribu Ha.

Baca juga  Kyai Halim Soebahar Terpilih Jadi Ketum MUI Jatim 2025-2030

Mukhammad Muryono, Ph.D, Dosen ITS Surabaya Departemen Biologi mengatakan, tanaman sorgum dipilih karena beberapa keunggulan yang dimilikinya. Antara lain kemampuan sorgum beradaptasi di lahan kering, di mana tanaman lain seperti jagung dan kedelai tidak bisa tumbuh.

“Jika dilakukan dengan dengan prosedur yang benar, tanaman sorgum bisa dipanen hingga tiga kali dalam satu kali penanaman sehingga bisa jadi cukup profitable bagi petani,” ujarnya.

Sarasehan dihadiri oleh sekitar 50 orang dari beberapa perwakilan pemangku kepentingan di
Mojokerto, antara lain DPR RI fraksi PPP, Pemerintah Kabupaten Mojokerto, akademisi, Aliansi Air, dan organsasi lingkungan, serta Gapoktan yang terlibat di Mojokerto.

“Konsolidasi antar stakeholder perlu dibangun agar tanaman sorgum bisa menjadi salah satu
komoditas yang dapat dikembangkan dan bernilai ekonomi yang berkelanjutan bagi petani lokal di Mojokerto, Kami berharap dengan adanya sarasehan ini, budidaya sorgum dapat dikembangkan dengan lebih
intensif melalui pembinaan teknologi budidaya hingga pasca panen,” ujar Sriyanto, Manager Program Yayasan Esa Khatulistiwa. Ym

Baca juga  Khofifah Dilantik Jadi Koordinator PPIH Embarkasi Surabaya 2026, Layani 44 Ribu Jemaah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *