Media sosial, twitter, facebook, grup WA, heboh pernyataan mengerikan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penyataan yang ingin membunuh semua warga Muhammadiyah karena merayakan Lebaran pada Jumat (21/4/).
Memang ada perbedaan perayaan lebaran tahun ini. Pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriyah pada Sabtu (21/4). Sementara Muhammadiyah hari Jumat, sehari sebelumnya.
Ceritanya berawal dari status Facebook yang ditulis Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin. Mantan kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu heran dengan Muhammadiyah yang tidak taat kepada pemerintah terkait penentuan Lebaran 2023, namun ingin memakai lapangan untuk sholat Idul Fitri.
“Eh, masih minta difasilitasi tempat sholat Id. Pemerintah pun memberikan fasilitas,” kata Thomas dalam statusnya, Senin (24/4)
Ternyata status Thomas di FB ditanggapi anak buahnya yang merupakan pakar astronomi BRIN, Andi Pangerang Hasanuddin. Melalui akun AP Hasanuddin, ia menuliskan kemarahan atas sikap Muhammadiyah dengan me-mention akun Ahmad Fauzan S.
“Kalian Muhammadiyah, meski masih jadi saudara seiman kami, rekan diskusi lintas keilmuan tapi kalian sudah kami anggap jadi musuh bersama dalam hal anti-TBC (takhayul, bidah, churofat) dan keilmuan progresif yang masih egosektoral. Buat apa kalian berbangga-bangga punya masjid, panti, sekolah, dan rumah sakit yang lebih banyak dibandingkan kami kalau hanya egosentris dan egosektoral saja?” tulis Hasanuddin.
Statusnya malah mengancam setelah berdebat dengan warganet lain. “Perlu saya halalkan gak nih darahnya semua Muhammadiyah? Apalagi Muhammadiyah yang disusupi Hizbut Tahrir melalui agenda kalender Islam global dari Gema Pembebasan? Banyak bacot emang!!! Sini saya bunuh kalian satu-satu. Silakan laporkan komen saya dengan ancaman pasal pembunuhan! Saya siap dipenjara. Saya capek lihat pergaduhan kalian,” katanya.
Kini status AP Hasanudin viral di Twitter dan Facebook, statusnya banyak disebar, termasuk di grup Whatsapp. Kini akun AP Hasanudin, sudah digembok.









