Geliat Airlangga menerjunkan ribuan relawan (volunteer) untuk mendampingi ibu hamil. Ceremony pelepasan ini digelar di Gedung Aseec Unair Kampus B, Selasa (6/2). Pelepasan ini dihadiri langsung tim Geliat Airlangga, Program Focal Poin Unair-Unicef Prof Nyoman Anita, Perwakilan Unicef Indonesia Dokter Armunanto, Wakil Rektor Unair Prof Nyoman Tri Puspaningsih, Bapeda Litbang Ema Agustina, Dinas Kesehatan Jawa Timur Dokter Waritsah dan BKMP Unair Prof Epy Muhammad Luqman.
Kegiatan pendampingan ke ibu hamil ini merupakan upaya untuk menurunkan kematian ibu dan bayi. Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat jumlah ibu hamil sekitar 500 ribu. Di tahun 2023 ada 443 kematian ibu. Diharapkan pendampingan ini hasilnya signifikan untuk menurunkan kematian tersebut.

“Tercatat ada 1.136 relawan mahasiswa dari 28 kampus yang berasal dari 8 kabupaten/kota di Jatim yang diterjunkan ke puskesmas. Mulai dari Surabaya, Jember, Jombang, Kediri, Probolinggo, Pamekasan, Banyuwangi dan Blitar. Ibu hamil yang didampingi jumlahnya 1.854 orang,” tutur Prof Nyoman Anita melaporkan data saat ceremony pelepasan.
Narasumber dari Dinkes Surabaya Ketut Yuni Mentari menuturkan nantinya volunteer ini bisa mengedukasi ibu hamil. Mulai dari pemeriksaan, pelayanan dan skrinning secara berkala.
“Sehingga volunteer sudah bisa memotret kondisi ibu hamil. Kegiatan ini bagus karena dari awal mereka akan tahu apa yang dilakukan. Seperti 6 kali pemeriksaan, diskrining setelah lahir harus dipantau,” ungkapnya.

Dia juga berpesan agar para relawan ini nantinya tetap sabar dalam mendampingi ibu hamil. “Kalau sama ibu hamil harus berhati hati. Karena ibu hamil terjadi perubahan fisik dan psikologi. Sehingga agak terganggu emosionalnya. Diharapkan mereka harus sabar tenang untuk mengarahkan ibu dan memberikan edukasi,” urainya.
Rini, volunteer mahasiswa semester 5 dari Universitas Muhammadiyah Surabaya mengaku sangat bersyukur sekaligus senang bisa telibat dalam pendampingan ibu hamil.
“Sangat senang sekali tentunya bisa ikut di pendampingan ibu hamil. Saya ditempatkan di Puskesmas Kedinding,” ungkap mahasiswa prodi kebidanan ini.
Senada dengan Rini, Ainun juga merasa bangga lantaran tidak semuanya mendapatkan kesempatan mendampingi ibu hamil. Menurutnya kegiatan seperti ini harus terus dilakukan untuk mencegah kematian ibu dan bayinya. “Ini pengalaman berharga,” tegasnya. (Erbe/Bagus)






