Ratusan mahasiswa dari BEM Seluruh Indonesia di Jawa Timur (BEM SI Jatim) dan BEM Nusantara Jawa Timur (Bemnus Jatim) kembali menggelar demo tolak kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) jadi 12 persen, per 1 Januari 2025.
Kedua organ itu sepakat bersatu menjadi Aliansi Mahasiswa Jawa Timur. Mereka memulai gerakannya dengan membentangkan spanduk besar bertuliskan ‘Tolak PPN 12%’, penampilan orasi teatrikal dan tanda tangan petisi penolakan di Taman Bungkul Surabaya.
Koordinator wilayah BEM SI Jatim, Aulia Thaariq Akbar menyebut, aksi ini sengaja digelar, untuk mengajak masyarakat lebih luas bersama-sama menolak kenaikan PPN.
“Ada sekitar 150 massa aksi yang terlibat. Mulai dari mahasiswa dari beberapa kampus se-Jawa Timur hingga para buruh dan pedagang,” kata Thaariq Senin (30/12).
Thaariq mengaku optimis aksi penolakan ini akan memberi dampak dan membuat masyarakat tersadar dengan imbas kenaikan PPN 12 persen.
Dia mengungkapkan, jika PPN tetap naik menjadi 12 persen pada 1 Januari 2025, pihaknya tidak menutup kemungkinan melakukan aksi lanjutan besar-besaran.
“Kenaikan pajak ini mencekik rakyat kecil, termasuk dari kalangan buruh,” ucapnya.
Sementara itu, Koordinator Bemnus Jawa Timur, Helvin menambahkan, kenaikan PPN satu persen pajak itu akan sangat membebani masyarakat kelas bawah. Termasuk pedagang kecil yang ada di Taman Bungkul dan tempat-tempat lainnya.
“Kami berharap kenaikan PPN 12 persen itu dibatalkan dan dikaji ulang, masih banyak sektor-sektor yang bisa dimanfaatkan oleh pemerintah seperti dientaskannya korupsi, [dikuranginya] biaya operasional dan dana tahunan para menteri dan masih banyak lainnya,” ucap Helvin. (Bg)






