Pemerintah Provinsi Aceh menyatakan kekurangan tenaga medis di lokasi pengungsian bencana banjir bandang-longsor.
Apalagi, akibat bencana yang terjadi sporadis pada akhir November lalu mulai menimbulkan dampak kesehatan pada pengungsi di daerah-daerah terdampak.
Masalah-masalah kesehatan itu di antaranya penyakit seperti demam, flu, penyakit kulit, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Untuk itu Pemerintah Aceh meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menurunkan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) guna memperkuat respons penanganan darurat di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh.
Juru Bicara Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin menyampaikan bahwa HEOC (Health Emergency Operation Center) atau Klaster Kesehatan Provinsi telah diaktifkan sebagai pusat penanggulangan krisis kesehatan.
“HEOC sudah aktif dan seluruh informasi awal ditangani melalui Rapid Health Assessment (RHA). Namun, kondisi di lapangan membutuhkan tambahan personel kesehatan. Karena itu, kami meminta dukungan Kemenkes untuk menurunkan TCK ke wilayah terdampak,” kata Murthalamuddin, Ahad(7/12).
TCK merupakan tenaga kesehatan khusus yang dimobilisasi pada situasi krisis kesehatan darurat, seperti bencana alam (banjir, gempa bumi, tsunami, tanah longsor), bencana non-alam (pandemi, KLB penyakit menular), maupun kondisi darurat sosial yang berdampak luas. (Bg)












