FK UNAIR Soroti Pentingnya Perlindungan Ganda Putus Penularan Hepatitis B pada Bayi

Peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2026 menjadi momentum mengevaluasi kesiapan Indonesia mencapai target Zero Hepatitis 2030. Pakar Kesehatan Ibu dan Anak Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Dewi Setyowati, M.Ked. Trop., menekankan kunci keberhasilan terletak pada pemutusan rantai penularan dari ibu ke anak.

Menurut Dewi, terobosan medis dan fasilitas pemeriksaan gratis dari pemerintah tidak akan optimal tanpa diimbangi peningkatan literasi dan penghapusan stigma di masyarakat.

Putus Rantai Penularan Ibu ke Anak

Dr. Dewi menjelaskan pencegahan dimulai sejak pra-kehamilan melalui program Triple Eliminasi gratis di puskesmas untuk mendeteksi Hepatitis B, HIV, dan Sifilis pada calon pengantin serta ibu hamil.

“Program wajib ini memastikan jika calon ibu positif, puskesmas akan langsung berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan rumah sakit rujukan untuk menyiapkan langkah perlindungan lanjutan bagi sang bayi,” ujarnya di Surabaya, Selasa (28/7).

Saat persalinan, bayi dari ibu positif Hepatitis B akan mendapat perlindungan ganda. Selain imunisasi dasar Hepatitis 0 yang diberikan pada usia 0–7 hari, bayi juga menerima suntikan Hepatitis B Immunoglobulin (HBIG).
Infeksi Hepatitis B hingga kini belum memiliki obat yang menyembuhkan total, melainkan hanya menekan replikasi virus.
“Efektivitas vaksinasi HB0 pada minggu pertama kehidupan sudah mencapai 90 persen. Penambahan imunoglobulin bertujuan agar imun bayi cepat mengenali virus. Perlindungan ganda ini krusial agar mata rantai penularan dari ibu ke bayi benar-benar terputus,” jelas Dosen Prodi Kebidanan FK UNAIR tersebut.

Hapus Stigma, Perkuat Edukasi

Meski program pemerintah tersedia gratis, pemahaman masyarakat tentang Hepatitis B masih rendah. Banyak orang baru sadar saat muncul gejala penyakit kuning. Padahal pada fase awal virus bersifat asimptomatis dan empat kali lebih infeksius dibanding HIV.

Tantangan lain adalah stigma sosial dan kendala edukasi dalam keluarga. Ketidaktahuan soal cara penularan membuat penderita dikucilkan, sementara intervensi keluarga besar kerap memicu penolakan vaksinasi.

“Stigma sosial sering kali lebih menyakitkan daripada penyakitnya itu sendiri. Pendekatan pencegahan harus melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang didengar warga,” tegasnya.

Memaknai Hari Hepatitis Sedunia, Dr. Dewi mengajak keluarga dan pemangku kepentingan menjadi garda terdepan menyukseskan program kesehatan nasional.

“Masyarakat tidak perlu takut skrining dan vaksinasi. Semakin cepat status kesehatan diketahui, semakin cepat penanganannya. Kesadaran bersama adalah kunci utama menuju target Zero Hepatitis 2030,” pungkasnya. Bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *