Inovasi di bidang kedokteran gigi anak terus dikembangkan untuk meningkatkan kenyamanan dan akurasi diagnosis. Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (FKG UNAIR), Prof. Dr. Sindy Cornelia Nelwan, drg., Sp.KGA, K-KGA, memaparkan hasil riset terbaru mengenai potensi penggunaan air liur untuk mendeteksi tumbuh kembang gigi anak, termasuk pada anak dengan kondisi Down Syndrome.
Selama ini penentuan waktu tumbuh gigi dan momen tepat untuk tindakan medis umumnya mengandalkan foto rontgen. Namun penggunaan rontgen memiliki risiko paparan radiasi yang perlu dihindari pada anak-anak.
Dalam risetnya, Prof. Sindy memanfaatkan hormon Dehydroepiandrosterone Sulfate (DHEA-S) yang terdapat dalam air liur. Hormon tersebut mencerminkan aktivitas kelenjar adrenal yang kadarnya meningkat seiring proses pematangan tubuh.
“Dengan kita pakai hormon yang ada di air liur ini, penelitian bisa dilakukan secara non-invasif, biasanya kalau kita mau lihat giginya kapan tumbuh, kita foto rontgen, namun itu kan ada paparan radiasi yang ingin kita hindari pada anak-anak,” ujar Prof. Sindy di Surabaya, Jumat (31/7).
Target Masa Depan: Pengembangan Kit Diagnosis Praktis
Riset ini ditargetkan untuk dikembangkan menjadi alat ukur mandiri berupa diagnostic kit yang praktis.
“Sebetulnya riset ini mau diarahkan untuk membuat diagnostic kit, yaitu alat yang bisa dipakai langsung oleh praktisi di lapangan seperti tes kehamilan. Begitu air liurnya diteteskan, kita bisa langsung melihat dan memprediksi kapan gigi anak akan tumbuh. Namun, memang prosesnya masih agak panjang karena kita mesti membuat alatnya terlebih dahulu,” tutur Prof. Sindy.
Edukasi Pencegahan Gigi Berlubang dan Kebiasaan Buruk Anak
Selain memaparkan riset, Prof. Sindy juga memberikan panduan bagi orang tua dalam menjaga kesehatan rongga mulut anak. Ia menegaskan masalah karies gigi dipengaruhi empat faktor utama, yaitu kualitas gigi, lingkungan, keberadaan mikroorganisme, serta faktor waktu.
“Kalau anak tidur malam hari sambil minum susu, itu akan menyebabkan karies di empat gigi depan yang kita sebut jenis nursing bottle syndrome. Jika susu formula saja sebenarnya tidak apa-apa, asal waktunya terputus dan segera dibersihkan agar tidak ada kesempatan terjadi fermentasi atau mengeluarkan asam yang merusak gigi,” terang Prof. Sindy.
Ia menambahkan pencegahan karies harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pemenuhan nutrisi vitamin dan mineral, sebab benih gigi anak sudah mulai terbentuk sejak usia kehamilan empat bulan.
“Kami menganjurkan orang tua membawa anak ke dokter gigi minimal enam bulan sekali. Jangan menunggu anak mengeluh sakit, karena kalau sudah sakit berarti lubangnya sudah dalam. Padahal, awal gigi berlubang itu ditandai dengan bercak putih yang hanya bisa diketahui oleh dokter gigi,” imbau Prof. Sindy. Bagus






