Ratusan Remaja Surabaya Ikuti Sarasehan Pranikah, Ini 3 Kunci Berkeluarga

Ratusan remaja Gen Z antusias mengikuti Sarasehan Asieqnya Pranikah, Ahad (21/12) di Surabaya. Kegiatan diskusi ini menekankan tiga kunci penting sebelum remaja melanjutkan ke pelaminan.

Pakar Psikolog Indonesia Bunda Suryantiningsih menegaskan bahwa pendidikan pranikah sangat penting. Pasalnya saat ini banyak kasus pernikahan dini berakhir perceraian. Tak hanya itu saja, remaja yang tak dibekali pendidikan pranikah, maka kurang informasi ilmu kesehatan reproduksi dan keuangan keluarga.

“Oleh sebab itu Gen Z perlu pendidikan pranikah sejak dini. Kesehatan mental, kesehatan reproduksi dan financial menjadi value penting bagi calon pasangan pengantin,” ungkap Bunda Yanti.

Baca juga  Ketum Muhammadiyah Kukuhkan Pengurus Pusat IPM, Dorong Perkuat Kaderisasi

Dari pendidikan pranikah ini, maka Gen Z setidaknya mendapat pemahaman, ilmu mengenai menjaga kesehatan mental, kesehatan reproduksi dan keuangan keluarga.

Dokter Spesialis Kandungan, dr Atika menegaskan bahwa kesehatan reproduksi yang optimal saat usia menikah yakni 20-35 tahun.

Menurutnya di kondisi inilah organ reproduksi, terutama perempuan sangat optimal. Jika terlalu muda usianya atau terlalu tua, maka bisa memengaruhi proses kehamilan.

“Demikian juga ketika sudah melahirkan, bayinya bisa stunting,” ucapnya.

Remaja, katanya, perlu menyiapkan sejak dini segala sesuatu sebelum menikah. Banyak sekali pasangan setelah menikah, karena tidak aware, akhirnya terjadilah masalah kesehatan.

“Wanita harus memperhatikan siklus haidnya. Kemudian soal keputihan juga perlu diperhatikan. Pemahaman ini yang kita berikan di pendidikan pranikah,” ucapnya.

Baca juga  PCNU Surabaya Ajak Pemkot dan DPRD Bersinergi Atasi Permasalahan Umat

Sementara pakar manajemen keuangan Bunda Nenie Sofiyawati menegaskan bahwa memanjemen keuangan sangat dibutuhkan untuk keharmonisan pasangan. Menurut dia, saat pranikah yang paling penting adalah komitmen bersama.

“Banyak remaja perempuan atau laki yang tidak memiliki pendidikan keuangan. Sehingga yang terjadi setelah menikah, tak mampu mengelola uangnya dengan baik,” ujarnya.

Sebut saja seperti pengeluaran dalam keluarga atau ketika utang. Disaat mereka tak mampu mengelolanya, maka pailit.

“Inilah yang akhirnya menimbulkan masalah dalam keluarga. Sehingga penting untuk memberikan pemahaman manajemen keuangan keluarga di acara pranikah ini,” ungkap Bunda Nenie yang juga dosen manajemen keuangan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *