Peran keluarga dalam membentuk masa depan anak kembali menjadi sorotan dalam Parenting Session “Family Role in Modern Parenting” bersama dr. Aisah Dahlan yang digelar SAIM, Senin (26/1/2026), di SAIM East 2 Surabaya. Kegiatan ini dihadiri ratusan orang tua siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
Acara dibuka dengan penampilan SAIM Orchestra, kolaborasi siswa, guru, dan orang tua yang menampilkan harmoni musik sebagai simbol kebersamaan dalam pendidikan. Penampilan tersebut menjadi pembuka sebelum rangkaian acara inti dimulai.
Founder SAIM Dr. M. Sulthon Amien MM dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan anak tidak bisa dilepaskan dari kesadaran keluarga. Menurutnya, parenting bukan aktivitas tambahan, melainkan bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Karena itu, sekolah dan orang tua perlu berjalan searah dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Pada kesempatan tersebut, , Dr. M. Sulthon Amien MM, juga memperkenalkan Yayasan Seribu Senyum sebagai mitra SAIM sejak 2018. Yayasan ini bergerak dalam pembelajaran nilai sosial dan spiritual, yang diintegrasikan dalam proses pendidikan siswa, termasuk melalui pembiasaan jurnal refleksi di SMA SAIM.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan Launching SAIM West, unit preschool (PG–TK) yang berlokasi di kawasan Westown View Surabaya. Peresmian dilakukan oleh Wakil Wali Kota Surabaya, Ir. H. Armuji, M.H. Dalam sambutannya, Armuji menyampaikan pengalamannya sebagai orang tua alumni SAIM bahkan cucunya juga di SAIM. Cak Ji (Sapaan akrabnya) menyebut SAIM sebagai institusi pendidikan yang menekankan pembentukan karakter dan nilai keluarga.
Memasuki sesi utama, dr. Aisah Dahlan mengulas peran neurosains dalam parenting modern. Ia menjelaskan bahwa proses mendidik anak tidak akan efektif ketika anak berada dalam kondisi emosi yang tidak stabil.
“Ketika anak stres, otak bagian depan yang berfungsi untuk berpikir dan menerima nilai tidak aktif. Dalam kondisi itu, nasihat tidak akan masuk,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tekanan akademik, termasuk pekerjaan rumah, yang kerap menjadi pemicu konflik di rumah. Menurutnya, proses belajar akan lebih efektif ketika anak merasa aman dan tenang. Dalam hal ini, ia mengapresiasi pendekatan pembelajaran SAIM yang tidak membebani siswa dengan pekerjaan rumah.
Selain itu, dr. Aisah menjelaskan perbedaan perkembangan otak anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki, menurutnya, membutuhkan lebih banyak ruang bermain karena keseimbangan perkembangan otaknya baru tercapai pada usia remaja akhir.
“Bermain adalah bagian dari proses belajar, terutama bagi anak laki-laki,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, SAIM menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kesehatan emosi, dan kesiapan anak menghadapi masa depan.






