Supriyatun (63) dan suaminya tercatat sebagai calon jemaah haji 2026. Ini adalah titik akhir dari penantian panjang yang dimulai sejak ia dan sang suami mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji tahun 2012.
Kini, setelah lebih dari satu dekade menabung dari hasil berjualan nasi dan uang pensiun, kesempatan itu akhirnya datang.
Tahun ini, Supriyatun dan suaminya, Sutarno, dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci.
“Saya sudah berjualan nasi selama 40 tahun. Menunya macam-macam ada soto, mangut, rames dan gorengan. Harganya juga murah, rames cuman Rp 5.000, soto Rp 6.000,” kata Supriyatun, Senin (13/4/2026).
Sehari-hari, warga Kecamatan Mangkang, Kota Semarang itu berjualan di Pasar Mangkang sejak pukul 05.30 hingga 11.00 WIB.
Dari penghasilan sederhana itu, ia menyisihkan sebagian untuk tabungan haji, meski nominalnya tidak selalu besar.
“Setiap hari saya selalu menitipkan uang ke bank keliling untuk tabungan haji, kadang Rp 10.000, kadang Rp 20.000. Kalau ada kebutuhan mendesak, saya ambil sebagian dulu,” paparnya. Selain dari hasil berdagang, tabungan haji mereka juga berasal dari uang pensiun sang suami yang merupakan mantan ASN di lingkungan Pemerintah Kota Semarang.
Meski telah purna tugas, sang suami tetap aktif bertani dan beternak untuk menambah penghasilan. Dalam beberapa pekan terakhir, Supriyatun dan suami mulai mematangkan persiapan. Selain mengikuti manasik haji, keduanya rutin menjaga kebugaran fisik dengan berjalan kaki setiap pagi di sekitar rumah.
“Sudah setengah tahun saya sering mengikuti manasik haji setiap minggu di Islamic Center Semarang. Kondisi saya dan suami juga dinyatakan sehat oleh puskesmas,” paparnya. Pasangan ini dijadwalkan berangkat pada 29 April 2026 bersama kloter 27.
Sebelumnya, mereka sempat dijadwalkan berangkat pada 2023, namun tertunda akibat pandemi Covid-19. (Ym)












