Cegah nonprosedural, Kanwil Haji dan Umrah DIY akan Bentuk Satgas Haji

Kanwil Haji dan Umrah Daerah Istimewa Yogyakarta berusaha keras untuk mencegah terjadinya pelaku perjalanan haji ilegal atau nonprosedural.

Plt Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Daerah Istimewa Yogyakarta Silvia Rosetti, mengatakan, tahun 2026 ini setidaknya ada 13 orang yang berhasil dicegah oleh petugas Imigrasi di YIA ketika akan melakukan perjalanan haji nonprosedural melalui Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).

Lebih lanjut ke depan ia akan membentuk Satgas pencegahan yang melibatkan banyak pihak termasuk Imigrasi, BKK (Balai Kekarantinaan Kesehatan) dan lainnya.

“Kalau memang itu tidak ada dokumen yang misal seperti visa bukan visa haji dan lain-lain itu tidak bisa, itu sudah kami cegah di situ,” kata Silvia, Ahad (12/7/2026).

Baca juga  Kemenhaj Sebut Potensi Ekonomi Haji dan Umrah Capai Rp80 Triliun per Tahun

Dirinya meminta masyarakat tidak tergiur dengan harga yang murah, bisa cepat berangkat.

“Terkait haji nonprosedural ini, kami mohon kepada dari masyarakat untuk tidak tergiur dengan harga murah, juga untuk bisa cepat berangkat, karena apapun semuanya itu ada aturannya,” Lanjutnya.

Ia menambahkan, mengapa melakukan pencegahan perjalanan haji nonprosedural, karena di Arab Saudi ada sanksinya, terutama ketika diketahui tidak menggunakan visa haji. Salah satu sanksinya adalah denda yang dapat mencapai 20.000 riyal.

Satgas tersebut nantinya akan berada di bandara. meski mereka yang akan melakukan perjalanan haji secara ilegal itu melalui berbagai negara seperi Malaysia dan Tailan dipastikan akan tetap terdeteksi.

“Meskipun bahasanya kita tidak akan haji, tetapi nanti akan terdeteksi gitu. Kalau misalnya ke Tailand saja sampai bayar 300 juta lah, mau ngapain ke Tailand bayarnya 300 juta? Tentunya itu pasti akan menuju ke sana ketika mereka berangkat pada waktu di musim haji,” katanya.

Baca juga  MUI Kritik Skema Pembiayaan Haji 2027 Pemerintah, Dinilai Korbankan Jamaah Waiting List

Selvia mengemukakan, embarkasi haji melalui YIA, baru pertama kali dilakukan dan hasil evaluasinya cukup baik. Meski demikian untuk tahun mendatang akan lebih ditingkatkan lagi.

ia juga minta maaf jika selama pelaksanaan yang pertama kali ini masih ada kekurangan, karena memang masih perdana.

Embarkasi di Yogyakarta ini berbasis hotel yang baru pertama kali ada di Indonesia.

“Jogja nanti bisa menjadi pilot project, bisa menjadi role model bagaimana dengan adanya embarkasi berbasis hotel itu. Karena memang embarkasi berbasis hotel ini bisa mengefisienkan anggaran, sesuai biaya, penghematan biaya, waktu, dan tenaga,” pungkasnya. (Ym)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *