Usai Ratusan Santri Keracunan, Ponpes Sidoarjo Usul Kelola MBG Mandiri

Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, KH Abdul Wahid Harun mengusulkan agar pengelolaan penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) dilakukan lembaganya secara mandiri. Usulan ini muncul usai ratusan santrinya mengalami dugaan keracunan akibat MBG.

Ia berharap peristiwa keracunan serupa tidak terulang.
“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dari pemerintah pusat. Harapan kami kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Program yang sebenarnya baik jangan sampai ternoda karena kelalaian dalam proses,” kata Gus Wahid kepada media Sabtu (5/9).

Ia mengusulkan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dikelola langsung oleh pihak internal pesantren, bukan lagi dipasok dari luar. Usulan tersebut sudah disampaikan kepada staf khusus kepresidenan.

Baca juga  Program Campuspreneur, Mendag Dorong Mahasiswa Jadi Entrepreneur

Menurutnya, konsep itu terinspirasi dari sistem di Malaysia dan Singapura, di mana dana program disalurkan ke lembaga dan pengelolaan dilakukan langsung oleh pesantren.
“Jadi bukan lagi makanan datang dari luar. Dana disalurkan ke lembaga, kemudian pondok sendiri yang mengelola. Ini sudah kami diskusikan dengan staf Wapres dan mendapat respons positif,” ujarnya.

Gus Wahid menilai jika MBG dikelola mandiri, pesantren dapat mengontrol langsung proses masak hingga penyaluran. Dengan jumlah 2.500 sampai 2.830 porsi, risiko dapat diminimalkan karena makanan dimasak dan dikonsumsi langsung.
“Kalau jumlahnya 2.500 sampai 2.830 porsi, tentu kalau masak dari jauh kemudian dikirim, ada jeda waktu. Kalau kami kelola sendiri, porsinya terukur, masak langsung, konsumsi langsung. Risikonya bisa diminimalkan,” jelasnya.

Baca juga  Komisi VIII DPR RI Minta BPS Benahi Desil, Jangan Korbankan Warga

Ia menegaskan usulan itu bukan bentuk penolakan terhadap program MBG.
“Programnya tetap kami dukung. Yang kami harapkan adalah sistemnya disempurnakan supaya lebih aman dan berkelanjutan,” ujar dia.

Gus Wahid juga berencana melibatkan alumni pondok dalam pengelolaan teknis MBG serta warga sekitar sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi.
“Yang mengelola nanti alumni. Warga sekitar juga bisa diberdayakan. Jadi selain kontrol kualitas lebih dekat, masyarakat sekitar juga mendapatkan manfaat,” terangnya.

Prinsip utama sistem baru tersebut, kata dia, adalah pengelolaan secara lokal, porsi disesuaikan kebutuhan, serta makanan dimasak dan disajikan dalam waktu sesingkat mungkin.

Seperti diketahui, ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar di 19 sekolah di kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo diduga mengalami keracunan massal usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Bg

Baca juga  RI Ekspor Perdana 1.000 Ton Beras Premium ke Malaysia, Potensi Capai 200 Ribu Ton

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *