Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan pemerintah tidak akan melakukan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan cara memangkas anggaran belanja secara sembarangan.
Efisiensi, yang disebut Suahasil sebagai penajaman belanja negara, dilakukan untuk memastikan anggaran yang telah dialokasikan benar-benar digunakan dan menghasilkan output sesuai rencana. Langkah efisiensi APBN akan dilanjutkan.
“Penajaman belanja negara itu dilakukan sepanjang tahun. Bukan hanya di satu titik lalu sudah itu tidak ada penajaman lagi,” katanya dalam konferensi pers APBN KiTa pada Jumat (18/9).
Menurutnya, penajaman anggaran bukan berarti pemerintah langsung memangkas alokasi belanja kementerian dan lembaga (K/L). Pemerintah akan terlebih dahulu melihat pelaksanaan kegiatan dan berkomunikasi dengan kementerian/lembaga terkait.
“Penajaman itu bukan berarti potong anggaran, bukan. Penajaman itulah memastikan bahwa alokasi yang ada digunakan dan menghasilkan output sesuai dengan rencananya,” ujarnya.
Ia mengatakan sejak September dirinya telah meminta Direktorat Jenderal Anggaran untuk melihat kembali belanja kementerian dan lembaga (K/L), termasuk kegiatan yang kontraknya belum selesai. Namun, evaluasi tersebut tidak serta-merta dilakukan dengan memangkas anggaran.
“Lihat lagi, tapi bukan berarti kemudian langsung main potong. Bicara dengan KL-nya, bangun komunikasi,” jelasnya.
Sebelumnya, pemerintah telah mencatat realisasi belanja negara hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp1.791,5 triliun. Angka tersebut naik 29 persen secara tahunan (yoy).
Belanja K/L tumbuh 33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah menilai peningkatan realisasi tersebut menunjukkan aktivitas dan proyek pemerintah berjalan lebih cepat. Bg






