Dikritik Publik Nepotisme, Dua Anak Menhaj Mengundurkan Diri dari Tenaga Ahli Kemenhaj

Dua orang anak Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf, Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz, resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai tenaga ahli di lingkungan Kementerian Haji dan Umrah.

Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengonfirmasi surat pengunduran diri kedua putra Menhaj tersebut telah diterima secara resmi oleh jajaran pimpinan kementerian, Senin (26/10/2026).

“Hari ini kami, saya dan Pak Menteri sudah terima pengunduran diri dua orang tenaga ahli yang Anda sebut-sebut. Jadi secara resmi hari ini dua orang yang disebut di berita… beliau berdua memutuskan untuk mengundurkan diri,” ujar Dahnil di kantornya, Jakarta Pusat, Senin.

Baca juga  Prabowo Ingin Indonesia Jadi 'Good Neighbor' di Kancah Internasional

Sebelumnya, pengangkatan Barbarossa dan Gibran sebagai tenaga ahli memantik kritik publik karena keduanya merupakan anak kandung Menhaj. Warganet mengaitkan pengangkatan tersebut sebagai praktik nepotisme.

Dahnil menjelaskan, keputusan mundur diambil demi menjaga integritas lembaga serta meredam kegaduhan publik.

“Itu juga untuk menjawab komitmen kami di Kementerian Haji dan Umrah untuk menjaga, memastikan integritas tetap harus terjaga. Dan itu adalah komitmen Pak Menteri dan komitmen saya untuk memastikan Kementerian Haji dan Umrah itu harus bebas dari praktik-praktik yang tidak beretika, praktik-praktik yang manipulatif, koruptif, perilaku mafia dan sebagainya,” tegas Dahnil.

Dahnil menerangkan, keterlibatan dua putra Menhaj bermula dari keterbatasan sumber daya manusia saat Badan Penyelenggara (BP) Haji pertama kali dibentuk pada akhir Oktober 2024. Saat itu BP Haji belum memiliki struktur organisasi, kantor, maupun staf administrasi.

Baca juga  Prabowo Ingin Indonesia Jadi 'Good Neighbor' di Kancah Internasional

“Keramaian kemarin terkait dengan dua tenaga ahli ini sebenarnya memang berangkat dari kebutuhan Kementerian Haji di awal-awal dulu. Ketika Badan Penyelenggara Haji memang tidak ada orang yang mau membantu kami sejak awal secara sukarela,” kata Dahnil.

“Akhirnya salah duanya itu adalah anaknya Pak Menteri ikut membantu sejak awal, karena saya juga enggak ada yang membantu. Karena Badan Penyelenggara Haji itu hanya dua orang, yaitu Pak Menteri dan saya. Waktu itu mereka enggak bergaji,” lanjutnya.

Sebelumnya, Menhaj Mochamad Irfan Yusuf sempat memberikan klarifikasi terkait polemik tersebut. Ia mengungkap peran anak-anaknya beserta sejumlah santri dalam membantu proses pembentukan lembaga BP Haji secara cuma-cuma selama tiga hingga empat bulan.

Baca juga  Prabowo Ingin Indonesia Jadi 'Good Neighbor' di Kancah Internasional

Seiring berkembangnya kelembagaan menjadi kementerian, beberapa di antaranya yang dinilai berintegritas dan berkompeten diangkat menjadi tenaga ahli. Menyikapi respons publik, keduanya akhirnya memilih melepaskan jabatan tersebut. Bg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *