Mengenal Qarn Al Manazil, Satu-satunya Tempat Miqat Jamaah Haji Tahun ini

Pemerintah Arab Saudi telah memutuskan untuk semua jamaah haji tahun ini diharuskan mengambil miqat di Qarn Al Manazil. Miqat sendiri merupakan tempat atau batas dari mana jamaah harus memakai pakaian Ihram, dua lembar kain putih tanpa jahitan (bagi laki-laki), untuk melakukan ritual haji tahunan atau umrah. 

Miqat di Qarn Al-Manazil yang saat ini lebih dikenal As-Sail Al-Kabir (banjir besar) terletak 94 km di sebelah Timur Makkah, atau sekitar 220 km dari Bandar Udara King Abdul Aziz. 

Miqat Qarn Al-Manazil merupakan salah satu Miqat yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW dari empat Miqat yang ditetapkan, selain di Bir A’li, Juhfah atau Rabigh dan Yamlamlam.

Qarn Al-Manazel dianggap oleh para sejarawan sebagai Miqat orang-orang Najd, juga biasanya merupakan Miqat bagi para jamaah yang bepergian dari negara-negara Teluk dan Asia Timur saat ini. 

SEJARAH NABI

Istilah ini mengacu pada gunung kecil yang membentang ke Utara dan Selatan dengan air mengalir di kedua sisi, alasan mengapa itu juga dikenal sebagai Al-Sail Al-Kabir (banjir besar).

Tahun ini semua jamaah haji diharapkan untuk menuju ke Miqat Qarn Al-Manazil, karena itu adalah Miqat terdekat menuju Makkah.

Terdapat sebuah Masjid bernama Masjid Al-Sail Al-Kabir di dalam Miqat Qarn Al-Manazil, yang dianggap sebagai salah satu yang terbesar di Arab Saudi, dilengkapi dengan layanan modern untuk para jamaah haji.

Adnan Al-Sharif, profesor sejarah dan peradaban di Universitas Umm Al-Qura di Makkah, mengatakan tentang Miqat: “Tempat itu terkait dengan kehidupan Nabi SAW, ketika Nabi melewatinya selama Pengepungan di Thaif. Menurut beberapa sejarah, Nabi SAW melewati ‘Qarn’ yang berarti Qarn Al-Manazil.”

Sebagaimana diketahui sejarah Qarn Al Manazil ini berkaitan dengan kisah Nabi Muhammad SAW di Thaif. Yaitu kisah pertemuan Nabi dengan Malaikat Jibril. Ketika itu, dalam tahun ke-10 kenabian (619 M), Nabi pulang dari Thaif dalam keadaan sedih atas sikap dan perlakuan penduduk Makkah dan Thaif terhadap beliau.

Imam Bukhari, salah seorang imam hadits terkemuka, meriwayatkan, ketika Nabi sampai di Qarn Al Manazil, Jibril datang dan mengatakan kepada beliau: “Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan dan penolakan kaummu itu atasmu. Dan Allah telah mengutus kepadamu Malaikat Penjaga Gunung agar kamu dapat memerintahnya sesuai dengan keinginanmu untuk membalas mereka. “ Malaikat Penjaga Gunung itu lalu memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu berkata: “Hai Muhammad, apa yang engkau inginkan. Jika engkau ingin aku menimpakan atas mereka dua gunung ini (Gunung Kubais dan Gunung Qaiqu’an/keduanya disebut Al Akhsyaban), maka akan aku lakukan.”

Kemudian Nabi menjawab: “Aku malah mengharap agar Allah menjadikan anak cucu mereka orang yang menyembah-Nya, meng-Esakan-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.”

BERSIH DAN NYAMAN

Al-Sharif mengatakan, bahwa Arab Saudi telah merawat Miqat Qarn Al-Manazil ini dengan baik, dan menyediakannya dengan fasilitas bagi para jamaah yang berkunjung yang akan melakukan Umrah dan Haji.

Masjidnya memiliki halaman yang luas dan bersih, terlihat nyaman. Kamar mandinya bersih, ada tempat mandinya juga. Dan, tempat wudhunya juga banyak. Di luar masjid, terdapat banyak warung pedagang yang berbaris rapih dalam bentuk pertokoan. Mereka umumnya menjual pakaian dan berbagai perlengkapan umrah dan haji.

Sepanjang sejarah, makna yang berbeda ada di balik penamaan Qarn Al-Manazil, menurut jurnalis dan sejarawan Hamad Al-Salimi. Dikatakan bahwa Al-Asmai, seorang filolog dan satu dari tiga ahli tata bahasa Arab dari sekolah Basra di Irak, menggambarkan Miqat sebagai gunung di Arafah.

Sementara itu, para sejarawan percaya bahwa Qarn Al-Manazil juga melayani orang yang datang dari arah lain sepanjang sejarah. 

Al-Ghuri, sultan ke-45 dari dinasti Mamluk, mengatakan, bahwa Qarn Al-Manazil adalah Miqat bagi rakyat Yaman dan Thaif, sedangkan Qadi Ayyad, seorang sarjana hukum Maliki terkenal di Zaman Keemasan Islam (800-1258) mengatakan, bahwa Qarn Al-Manazil adalah Qarn Al -Thaalib yang berfungsi sebagai Miqat rakyat Najd. 

Beberapa orang mengucapkannya “Qaran”, yang salah, karena Qaran adalah suku di Yaman, menurut Al-Salimi.  Ym

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *