
Pandemi Covid – 19 telah membawa dampak signifikan dalam berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali bidang pendidikan. Para guru dituntut untuk beradaptasi dengan cepat dengan kondisi yang tak lazim ini. Bukan hanya adaptasi terhadap strategi pembelajaran namun juga beradaptasi dengan kebiasaan baru terkait penerapan protokol kesehatan.
SMA Wachid Hasyim 2 merespon positif keadaan ini dengan beberapa langkah strategis. Pertama, membentuk duta kesehatan sekolah ynag bertugas mengawal pelaksanaan protokol kesehatan sesuai standar operasional prosedur yang telah ditetapkan. Kedua, menerapkan protokol kesehatan tentunya diikuti dengan penyediaan sarana ynag memadai mulai dari penyemprotan desinfektan secara berkala, menyediakan sarana cuci tangan dan hand sanitizer, menyediakan masker dan face shield bagi guru dan siswa. Ketiga, mengupayakan adanya sebuah sistem yang dapat menelusuri rekam jejak kesehatan warga sekolah sehingga penyebaran covid-19 di sekolah dapat diantisipasi sedini mungkin.
Sebagaimana yang disampaikan Mendikbud Nadiem Makarim dalam konferensi pers tanggal 15 Juni 2020 seperti yang dilansir di laman resmi Kemendikbud menyebutkan “Prinsip kebijakan pendidikan pada masa pandemi covid-19 adalah kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat menjadi prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran”.
Oleh karenanya merujuk apa yang disampaikan oleh Medikbud, maka mereka yang datang ke sekolah haruslah mereka yang benar-benar dalam keadaan sehat sehingga tidak menyebarkan penyakit dan menimbulkan cluster baru di lingkungan sekolah.

Pihak sekolah pun tidak memaksakan kehadiran peserta didik di sekolah untuk mengikuti pembelajaran secara luring. Orang tua diberi kebebasan untuk memilih mengizinkan atau tidak putra-putrinya hadir di sekolah dengan membuat surat pernyataan bermaterai yang ditanda tangani oleh orang tua. Dengan demikian aktifitas kehadiran peserta didik untuk mengikuti pembelajaran luring adalah atas izin dari orang tua dan tanpa paksaan dari pihak sekolah.
Aplikasi Monitoring Kesehatan atau Monkes inilah yang diterapkan oleh SMA Wachid Hasyim 2 Taman sejak pertama kali memutuskan untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara luring dan mungkin menjadi aplikasi monitoring kesehatan pertama dan satu-satunya.
Aplikasi Monitoring Kesehatan ini didesain sedemikian rupa agar mudah digunakan oleh warga sekolah dan mampu menjadi alarm pengingat bagi warga sekolah untuk waspada terhadap penyebaran covid-19.
Ada beberapa pertanyaan yang harus diisikan secara jujur oleh seluruh warga sekolah yaitu pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik dan tenaga kebersihan. Semuanya diwajibkan mengisi setiap hari. Sistem aplikasi mengatur pengisian mulai pukul 7 malam hingga pukul 7 pagi. Lewat dari waktu yang telah ditentukan sistem akan ditutup otomatis.
Aplikasi akan menunjukkan tanda warning yang berarti warga sekolah dilarang hadir ke sekolah manakala dari hasil pengisian tersebut terdapat indikasi yang mengarah pada salah satu gejala covid-19. Pun sebaliknya, aplikasi akan otomatis memberikan respon diperbolehkannya responden untuk hadir di sekolah jika dalam pengisiannya tidak ada satu pun hsal yang mengindikasik pada gejala covid-19.
Berdasarkan hasil rekapitulasi data monitoring kesehatan yang diperoleh oleh duta kesehatan sekolah menyimpulkan bahwa diterapkannya aplikasi monkes ini terbukti mampu menjadi langkah awal screening kesehatan bagi warga sekolah sehingga sepanjang diselenggarakannya kegiatan pembelajaran secara luring hampir tidak ada penyebaran covid – 19 yang bersumber dari warga sekolah. Mereka yang hadi ke sekolah adalah mereka yang benar-benar sehat.
Pihak sekolah akan memberikan toleransi sebesar-besarnya bagi warga sekolah yang terbukti warning untuk tetap di rumah dan menjaga diri dengan istirahat. Karena saat ini kesehatan adalah kebutuhan yg paling utama.
Begitu pentingnya pengisian aplikasi monkes ini, jika saat pembelajaran luring terdapat siswa yang tidak melakukan pengisian maka duta kesehatan sekolah berhak mengambil tindakan untuk memulangkan siswa tersebut. Tindakan ini telah disosialisasikan kepada siswa dan sengaja diambil untuk memberi efek jera kepada siswa agar peduli kepada kesehatan diri dan orang lain.
Oleh: Dra Hj. Nur DJannah, Kepala Sekolah SMA Wachid Hasyim (YPM) 2 Taman






