Gerakan Pemuda (GP) Ansor Mojosari, Kabupaten Mojokerto menggelar Pengajian rutinan selasa legi yang dikemas dengan Festival Liwetan.
Meski sederhana, namun acara yang digelar di Selasa (6/12/2022) malam yang berlokasi di lapangan parkir gedung MWC NU Mojosari ini diikuti antusias oleh ratusan warga. Mereka datang untuk mengikuti pengajian, sekaligus menyaksikan Festival Liwetan yang menampilkan aneka masakan tradisional.

Ketua GP Ansor Mojosari, Samsul Ma’arif mengatakan, liwetan merupakan tradisi nenek moyang yang mulai luntur karena anak muda saat ini lebih ngetrend dengan kebiasaan ngopi di warung kopi ataupun main wifi. Padahal menurutnya, dengan tradisi liwetan itu akan mengikhtiyarkan ketahanan pangan, serta membangun kerukunan di masyarakat.
“Ini mungkin menjadi Trigger (Pemicu, red) saja ya, untuk mengingatkan banyak pihak, terutama kalangan muda bahwa liwetan sudah dilupakan. Padahal nilai kerukunan (liwetan, red) itu yang kita rindukan Liwetan kecederungannya orang ngumpul kemudian ada isinya, tindak lanjutnya rata positif. target acara ini agar bisa memulai lagi tradisi liwetan,” ujarnya.

Festival Liwetan yang dilombakan ini diikuti oleh lembaga badan otonom (Banom) yang ada di lingkungan MWC NU Mojosari.
Beragam menu yang disajikan, antara lain nasi liwet dengan menu sambel terong, nasi kuning, urap-urap dengan lauk pauk yang khas seperti tahu tempe bumbu kuning, telor bali, perkedel dan peyek teri.
Sementara itu Ketua Panitia Festival Liwetan, Muhammad Arif mengatakan, Festival Liwetan yang dilombakan ini memiliki kriteria penilaian tersendiri. Antara lain menu harus sederhana sehat, tanpa limbah kertas dan plastik, serta tanpa piring dan sendok.

Menurut Arif, tema Festival Liwetan dipilih karena tradisi ini yang banyak ditinggalkan. Bahkan di lingkungan pesantren.
“Fenomena sekarang santri dimanjakan dengan katering. Liwetan tradisi makan bareng tidak ada.
Liwetan bagi santri merupakan simbol kemandirian. Sedangkan di lingkungan sosial, liwetan menjadi Problem Solving,” ucap Arif.
Hasil penilaian tim juri dari Festival ini, Juara 1 disabet oleh Muslimat NU Cabang Mojosari. Juara kedua diraih Fatayat NU Cabang Mojosari. Sedangkan juara ketiga diraih tim dari IPPNU cabang Mojosari. Masing-masing pemenang mendapatkan hadiah berupa uang tunai, serta peralatan kelengkapan kantor untuk dimanfaatkan oleh masing-masing lembaga.
Setelah pengajian berakhir, nasi liwet tersebut dimakan bersama-sama dengan beralaskan daun pisang.

Ditambahkan Arif, pengajian rutin selasa legi ini diawali dengan beberapa rangkaian acara. Pada selasa (6/12/2022) pagi, diawali dengan Khataman Alquran, pengobatan alternatif. Kemudian malamnya digelar pengajian yang diawali dengan pembacaan sholawat Nabi dan istighosah. Kemudian dilanjutkan dengan pengajian kitab Irsyadul Ibad, serta ceramah agama oleh Gus Sya’ban bin Ali Masyadi dari pondok pesantren Darul Hikmah Mojosari, serta bu Nyai Hj Elfi Ni’mah Hamidah dari Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang.
Dalam pengajian ini juga dilakukan penyerahan bantuan alquran untuk beberapa masjid dan mushola di Mojosari. Ym






