Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Kadinkes Jatim), Prof Erwin Astha Triyono membuka rapat koordinasi pengendalian dan pencegahan kejadian luar biasa (KLB) polio yang digelar Geliat Airlangga, Kamis (4/1) di Hotel Harris Gubeng Surabaya.
Ada 38 dinas kabupaten/kota yang mengikuti rapat kala itu. Setelah ditetapkannya status KLB Polio di Pamekasan, Madura, ada dua langkah yang diambil untuk mencegah polio. “Pertama surveilans di lingkungan sekitar. Kira-kira ada penderita tidak yang sakitnya seperti polio. Ini butuh waktu pemeriksaan dua minggu kedepan,” ungkap Prof Erwin diwawancarai majalahnurani.com.

Kemudian yang kedua, lanjut Prof Erwin, yakni sub pekan imunisasi nasional (Sub PIN). Pelaksanaannya pada pertengahan Januari dan pertengahan Februari.
“Jadi dua kali. Mudah-mudahan bisa tercapai dan polio selesai di Jatim,” ungkapnya.
Dijelaskan bahwa polio penularannya melalui mulut. Namun, tegas Prof Erwin, selama perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terjaga maka tidak akan menular.
Soal Pamekasan ditetapkan status KLB, menurutnya ini sangat penting. “Agar semua stakeholder bisa bergerak bareng untuk mencapai target PIN,” tegasnya.
Nantinya pekan imunisasi polio serentak digelar seJatim pada pertengahan Januari. Untuk periode kedua akan digelar pada Februari. Sasarannya yakni usia 0-7 tahun 11 bulan 29 hari. Imunisasi berupa pemberian vaksin tetes satu kali.

Program Focal Point Kerjasama Unair-Unicef Pro Nyoman Anita Damayanti berharap dengan adanya koordinasi saat itu, maka semua bisa berkolaborasi untuk memutus penyebaran polio. Prof Nyoman juga menyerukan agar warga Jatim mengajak anaknya dalam program imunisasi polio yang digelar Januari-Februari mendatang.
“Kita harapkan agar kasus polio ini tidak menyebar. Imunisasi juga bisa mencapai target sehingga Jawa Timur, Indonesia bebas polio,” harapnya.

Perwakilan Unicef Indonesia Dr Armunanto menegaskan bahwa Jatim sudah memiliki pengalaman yang baik dalam menangani KLB. Seperti difteri. Maka, keberhasilan bulan imunisasi anak (Bian) bisa memutus penyebaran polio. “Kolaborasi ini tentu untuk kesejahteraan ibu anak. Kita punya pengalaman difteri, polio dan lainnya. Kita tuntaskan Sub PIN. Tak hanya di Madura saja, tapi di seluruh Jatim,” pungkasnya. (Ra/Bagus, foto: Bagus)












