Perjuangan Terbayar, Penjual Ikan Keliling di Lamongan Pergi Haji

Pasangan suami istri asal Lamongan, Mulyono (48) dan istrinya, Wiwik Mujiyati (43), tak pernah menyangka langkah kecil mereka setiap hari justru mengantarkannya ke Tanah Suci.

Pasangan asal Desa Kemlagigede, Kecamatan Turi, Lamongan, Jawa Timur itu akhirnya berangkat menunaikan ibadah haji setelah melalui perjalanan panjang yang penuh kesabaran.

Sejak mendaftar pada 2012, mereka harus menunggu hingga 14 tahun sebelum benar-benar mendapat panggilan berangkat.

Sejak 2005, Mulyono dan Wiwik mulai menyisihkan penghasilan dari berjualan ikan.

Nominalnya tak besar sekitar Rp50 ribu hingga Rp150 ribu per hari, tetapi dilakukan tanpa henti.

Baca juga  Jelang Kedatangan Jemaah, BBKK Surabaya Fogging Asrama Haji Cegah Demam Berdarah

“Setiap hari kami kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil jualan ikan. Alhamdulillah akhirnya bisa daftar, walaupun harus menunggu lama,” tutur Mulyono, Jumat (24/4/2026).

Kehidupan mereka pun jauh dari kata mudah.

Selama dua tahun, keduanya berjualan ikan keliling menggunakan sepeda, menyusuri kampung demi kampung.

Hingga akhirnya mereka menetap di Pasar krempyeng wilayah Made, dan bertahan lebih dari dua dekade sebagai pedagang sederhana.

Rutinitas itu mungkin tampak biasa bagi banyak orang.

Namun bagi Mulyono dan Wiwik, setiap kayuhan sepeda dan setiap rupiah yang ditabung adalah bagian dari perjalanan menuju satu tujuan menunaikan rukun Islam kelima.

Menjelang keberangkatan, suasana haru tak bisa disembunyikan.

Baca juga  Skema Fast Track, Persingkat Proses Imigrasi Jamaah Haji di Bandara Madinah

Tangis bahagia pecah saat mereka mengingat kembali perjuangan panjang yang telah dilalui bersama.

“Haji itu panggilan. Rasanya campur aduk, terharu, sedih, tapi juga bahagia sekali,” ujar Wiwik dengan mata berkaca-kaca.

Kini, keduanya mengaku telah siap lahir dan batin.

Mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk berangkat menuju Tanah Suci, membawa harapan dan doa yang telah lama dipupuk.

Selama berada di Madinah dan Makkah, Mulyono dan Wiwik berencana memperbanyak ibadah, memohon kesehatan, serta kelancaran dalam menjalankan seluruh rangkaian haji.

Kabar keberangkatan mereka pun disambut hangat keluarga besar.

Rasa bangga dan haru menyelimuti, menyadari perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis.

Kisah Mulyono dan Wiwik menjadi pengingat sederhana, mimpi besar tak selalu dimulai dari hal besar.

Baca juga  Program Unggulan Zatabbaru Travel, Ada Daftar 6 Free 1

Kini, di usia yang tak lagi muda, keduanya bersiap menapaki perjalanan suci ke Tanah Suci.

Bukan hanya membawa koper dan perlengkapan ibadah, tetapi juga membawa cerita panjang tentang perjuangan, kesabaran, dan keyakinan. (Ym)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *