Festival Sayang Anak Surabaya Perkuat Ikatan Keluarga Lewat Beragam Lomba

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengajak orang tua, terlibat aktif dalam tumbuh kembang anak, melalui Festival Sayang Anak “Main Raya, Anak Surabaya Hebat” yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) ke-42, di Alun-Alun Surabaya, Selasa (28/7).

Melalui festival tersebut, ribuan anak diberi ruang untuk bermain, berekspresi, dan mengembangkan kreativitas, melalui beragam kegiatan yang melibatkan orang tua secara langsung. Tak sekadar menjadi ajang unjuk bakat, kegiatan ini juga dirancang untuk memperkuat komunikasi, membangun ikatan emosional (bonding), sekaligus menanamkan pola pengasuhan positif dalam keluarga.

Festival Sayang Anak berlangsung selama dua hari, yakni 28-29 Juli 2026. Pada hari pertama, kegiatan difokuskan bagi anak-anak PAUD, bersama keluarga melalui beragam aktivitas edukatif dan kreatif, seperti gerak dan lagu, Senam Anak Indonesia Hebat, art finger painting ayah dan anak, kolase ibu dan anak, menghias bekal sehat, melipat baju bersama ayah, mendongeng, pemutaran film anak, pameran karya, bazar, hingga talkshow. Seluruh kegiatan dirancang untuk mengembangkan kreativitas anak, sekaligus mempererat kedekatan orang tua dan anak.

Sementara itu, pada Rabu (29/7), rangkaian festival memasuki puncak peringatan Hari Anak Nasional. Berbagai kegiatan yang melibatkan anak, dari berbagai jenjang pendidikan turut digelar, mulai dari penyerahan penghargaan bagi anak berprestasi, permainan edukatif dan lomba olahraga, pameran karya, kelas inspirasi, workshop kreatif, seminar perlindungan anak, pemutaran film anak, Festival Sinema Kita, hingga dialog anak bersama Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan kementerian terkait. Melalui rangkaian tersebut, Pemkot Surabaya ingin menghadirkan ruang partisipasi, yang lebih luas agar anak-anak dapat bermain, belajar, menyampaikan aspirasi, sekaligus mengembangkan potensi sesuai minat dan bakatnya.

Baca juga  Pemkot Surabaya Hadirkan Living Lab Energi Terbarukan di KRM

Festival dibuka dengan penampilan dongeng, gerak dan lagu, serta solo vokal anak-anak yang memeriahkan suasana. Kawasan Balai Pemuda pun disulap menjadi ruang bermain dan belajar, yang dipenuhi berbagai aktivitas ramah anak.

Bunda PAUD Kota Surabaya, Rini Indriyani mengatakan, konsep festival sengaja dirancang agar orang tua tidak hanya menjadi penonton, melainkan ikut terlibat dalam setiap proses tumbuh kembang anak.

“Festival Sayang Anak dikhususkan untuk anak-anak PAUD, sebagai bagian dari rangkaian Hari Anak. Salah satu kegiatan utamanya, adalah lomba yang melibatkan orang tua dan anak. Melalui kegiatan ini kami ingin membangun komunikasi, yang baik antara orang tua dan anak, sebagai bagian dari pola pengasuhan yang positif,” kata Bunda Rini.

Menurut Bundanya, seluruh anak yang mengikuti festival tersebut adalah pemenang. Sebab, keberanian mereka tampil di depan umum, merupakan pencapaian yang patut diapresiasi.

“Anak-anak belajar percaya diri, membangun karakter, dan sportivitas. Mereka belajar bahwa menang dan kalah, adalah hal yang biasa. Ketika menang tidak boleh mengejek teman, sedangkan ketika kalah tidak boleh menyerah. Mereka harus terus mencoba,” ujarnya.

Ia menilai kehadiran ayah dan ibu dalam setiap perlombaan, memiliki dampak besar terhadap perkembangan psikologis anak. Dukungan yang diberikan orang tua mampu menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus memperkuat ikatan emosional di dalam keluarga.

“Ketika anak melihat ayah dan ibunya hadir memberikan dukungan, rasa percaya dirinya akan semakin kuat. Apalagi jika orang tua ikut terlibat dalam lomba. Anak akan merasa benar-benar disayang dan diperhatikan. Kenangan sederhana seperti ini akan terus, mereka ingat hingga dewasa. Inilah salah satu bentuk pengasuhan yang sangat penting,” ungkapnya.

Baca juga  Pemkot bersama Satgas Anti Premanisme Sisir Manukan Jukir Diamankan

Bunda Rini menegaskan, Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momentum, untuk mengingatkan seluruh orang tua agar lebih hadir, dalam kehidupan anak, bukan hanya diperingati melalui kegiatan seremonial.

“Sesibuk apa pun kita sebagai orang tua, usahakan tetap hadir dalam momen-momen penting anak. Hal yang terlihat sederhana bagi orang dewasa, bisa menjadi kenangan yang sangat berarti bagi mereka. Bangun komunikasi sejak usia dini, karena itu akan menjadi bekal mereka hingga dewasa,” pesannya.

Selain menghadirkan ruang interaksi keluarga, Pemkot Surabaya juga memperkuat ekosistem pengasuhan, melalui kolaborasi lintas sektor. Saat ini, sebanyak 19 perangkat daerah (OPD), terlibat dalam mendukung program pengasuhan, pendidikan, dan kesehatan anak usia dini.

“Sinergi tersebut diperkuat hingga tingkat kecamatan dan kelurahan, melalui peran Bunda PAUD sebagai ujung tombak pelayanan, kepada masyarakat,” tegasnya.

Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Koalisi PAUD Holistik Integratif (HI) Nasional, Irma Yuliantina, yang berkunjung ke Surabaya dalam rangka program Ekspor Early Years, yakni inisiatif ekspor layanan usia dini. Menurutnya, praktik baik yang diterapkan Pemkot Surabaya, layak diperkenalkan di tingkat regional, hingga global karena mampu menghadirkan pendekatan pembangunan anak, yang holistik dan menyeluruh.

“Kami melihat komitmen Pemerintah Kota Surabaya, terhadap pemenuhan hak anak usia dini sangat kuat. Perhatian yang diberikan tidak hanya pada pendidikan, tetapi juga kesehatan dan pengasuhan. Ketiga aspek itu, merupakan pilar utama pembangunan anak usia dini,” kata Irma.

Baca juga  Pemkot Kampanyekan Ikan Air Payau Jadi Menu Bergizi Keluarga

Menurutnya, pelibatan orang tua dalam berbagai perlombaan menjadi keunggulan, yang jarang ditemukan di daerah lain. Anak tidak hanya diberikan ruang untuk menunjukkan minat dan bakat, tetapi juga memperoleh dukungan langsung, dari keluarga sehingga tercipta hubungan yang semakin erat.

Irma juga mengapresiasi keberhasilan Pemkot Surabaya, menyinergikan 19 OPD dalam satu sistem pelayanan anak.

“Ini bukan pekerjaan yang mudah, tetapi hasilnya sudah terlihat nyata. Karena itu kami memberikan apresiasi, yang tinggi kepada Pemerintah Kota Surabaya. Menurut saya, Surabaya benar-benar layak disebut sebagai kota yang ramah anak8, karena memberikan perhatian kepada seluruh anak, termasuk anak-anak penyandang disabilitas,” tuturnya.

Selain kolaborasi lintas perangkat daerah, Irma turut mengapresiasi inovasi digital Si Bunda, yang dinilainya menjadi contoh pengasuhan terintegrasi. Menurutnya, aplikasi tersebut bukan sekadar platform digital, melainkan sistem yang menghubungkan seluruh ekosistem, pendukung tumbuh kembang anak.

Melalui aplikasi itu, perkembangan anak dapat dipantau mulai dari usia, status imunisasi, sekolah, hingga berbagai aktivitas pendidikan. Bahkan, kegiatan edukatif seperti kunjungan ke pemadam kebakaran, juga terintegrasi dalam sistem.

“Kalau boleh saya sebut, ini adalah pengasuhan satu kampung karena melibatkan 19 OPD. Jadi bukan hanya ayah dan ibu, tetapi seluruh ekosistem ikut memastikan kebutuhan anak terpenuhi. Menurut saya, Si Bunda merupakan contoh nyata pengasuhan positif, yang terintegrasi dalam satu aplikasi dan patut diapresiasi,” pungkasnya. (yunus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *