Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemakaian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Indonesia saat ini mencapai 80 persen.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan pemakaian BBM non-subsidi di Indonesia yang hanya menyentuh level 20 persen.
“Karena total pemakaian BBM 80 persen itu subsidi, yang non-subsidi itu 20 persen,” kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (3/8).
Bahlil menyampaikan harga BBM non-subsidi mengikuti harga minyak mentah dunia.
Ia menyebut jika harga minyak dunia turun, maka harga BBM non-subsidi di Indonesia per liternya pun ikut turun.
“Tapi kalau naik, pasti juga akan naik dan sekarang kan lagi turun,” ujarnya.
Dengan begitu, Bahlil menyebut harga BBM non-subsidi di Indonesia bergantung pada kondisi geopolitik dunia.
PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan penurunan harga BBMnon-subsidi untuk jenis Pertamax per 1 Agustus.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyatakan bahwa penyesuaian harga BBM Nonsubsidi mengikuti tren harga rata-rata minyak dunia dan juga mempertimbangkan nilai tukar rupiah sesuai ketentuan yang ada.
“Penyesuaian harga BBM Non-Subsidi dilakukan mengikuti ketentuan dan arahan pemerintah dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta tetap memperhatikan daya beli masyarakat,” kata Kitty dalam keterangan resmi. Bg












