Menteri PPPA: Pemberdayaan Perempuan Kunci Memutus Rantai Kemiskinan

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Dr Arifatul Choiri Fauzi MSi menyebut pemberdayaan perempuan sebagai strategi penting dalam upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Hal itu disampaikan dalam lokakarya Sinergi Pentahelix: Optimalisasi Kolaborasi Pemda, KemenPPPA, dan Perguruan Tinggi dalam Akselerasi SDGs Poin 1, 4, dan 5 di FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Kamis (10/9/2026).

Lokakarya di Hall A Gedung Soetandyo, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR itu mempertemukan perwakilan Bappeda, DP3AK Jawa Timur, akademisi, Pusat Studi Gender, organisasi masyarakat sipil, dan mahasiswa.

Arifatul menekankan keterkaitan antara SDG 1 tentang pengentasan kemiskinan, SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, dan SDG 5 tentang kesetaraan gender.
“Pendidikan yang berkualitas untuk membuka pengetahuan dan pilihan hidup. Kesetaraan gender memastikan bahwa kesempatan tersebut dapat diakses secara adil oleh perempuan dan laki-laki. Sementara pemberdayaan ekonomi memberikan kemampuan bagi keluarga untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi,” jelasnya.

Baca juga  Bulog Tambah Pasokan Beras, Cegah Kenaikan Harga

Menurutnya, ketika perempuan memperoleh kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, dampaknya dirasakan pada ketahanan ekonomi keluarga serta kualitas pengasuhan dan pendidikan anak.

Arifatul juga menyoroti masih lebarnya kesenjangan partisipasi angkatan kerja antara perempuan dan laki-laki. Kesenjangan tersebut, kata dia, tidak hanya disebabkan persoalan kompetensi, tetapi juga berkaitan dengan pembagian peran domestik, akses pekerjaan layak, dan ruang pengambilan keputusan.

Ia menilai pendekatan pentahelix penting untuk mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Salah satu bentuk kolaborasi yang didorong Kementerian PPPA adalah Ruang Bersama Indonesia (RBI) di tingkat desa.

Arifatul mendorong UNAIR mengembangkan desa atau kelurahan binaan dengan melibatkan mahasiswa lintas fakultas dan memastikan kolaborasi berujung pada aksi nyata.
“Kita tidak cukup hanya bertemu dan berbagi gagasan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bergerak bersama dan menerjemahkannya menjadi aksi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. Bagus

Baca juga  Usai Ratusan Santri Keracunan, Ponpes Sidoarjo Usul Kelola MBG Mandiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *