Gubernur Khofifah Bareng 6.000 Murid PAUD Muslimat NU Meriahkan Gebyar Senam Santri Aswaja

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membaur bersama lebih 6000 anak-anak dalam Gebyar Senam Santri Aswaja yang digelar Ikatan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (IGPAUD) Muslimat NU Kabupaten Malang di Sengkaling Recreation Park, Mulyoagung, Kabupaten Malang, Senin (2/11/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum untuk menanamkan nilai religiusitas dan nasionalisme sejak usia dini.

Sebanyak lebih 6.000 peserta yang terdiri atas murid Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), dan Kelompok Bermain (KB), beserta para guru dan wali murid, hadir memeriahkan kegiatan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional Tahun 2026 tersebut.

Usai menyaksikan Senam Santri Aswaja, Gubernur Khofifah menyapa dan membaur bersama anak-anak. Ia memberikan semangat agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, mencintai tanah air, serta membanggakan keluarga, bangsa, dan agama.

Baca juga  Resmi Nahkodai Gerindra Kota Mojokerto, Ning Ita Langsung Konsolidasi Menuju Pemilu 2029

Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa pembentukan generasi penerus yang siap memimpin Indonesia perlu dimulai sejak dini. Penanaman nilai religiusitas harus berjalan beriringan dengan penguatan nasionalisme, termasuk melalui kegiatan yang melibatkan anak-anak, guru, dan orang tua.

“Kalau membibit sebenarnya dimulai dari kehamilan, kemudian dari balita dan ini ada yang balita kalau kelompok bermain, tapi ada yang sudah umur 6 tahun kalau itu TK, RA kalau kita mau menanamkan sisi religiusitas berseiring dengan sisi nasionalisme,” kata Gubenur Khofifah.

Menurutnya momentum Hari Santri sangat tepat untuk mencetak generasi yang memliki nilai religius dan nasionalis. Pasalnya Hari Santri merupakan refleksi sekaligus referensi bagaimana peran besar santri dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Momentum hari santri itu adalah sangat tepat karena hari santri itu sesungguhnya referensi bagaimana mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih oleh warga bangsa ini,” ucapnya.

Baca juga  Libatkan 3.856 Guru Kelas, Surabaya Perkuat Pencegahan Perundungan di Sekolah

Gubernur Khofifah mengungkapkan bahwa perlawanan rakyat yang terjadi di Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia bermula dari fatwa resolusi jihad yang dikeluarkan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

“Kyai Muhammad Hasyim Asy’ari menyerukan resolusi jihad yang menyerukan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan fardhu ain, artinya kewajiban setiap warga bangsa tapi waktu itu terutama Jawa dan Madura,” jelasnya.

Orang nomor satu di Jatim ini menyampaikan bahwa resolusi jihad yang difatwakan pendiri NU tersebut menjadi pelecut bagi para santri untuk bersama-sama melawan penjajah dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Santri memiliki kewajiban dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ke depan, Gubernur Khofifah menyampaikan perlunya perhatian dan perlindungan dari pemerintah untuk santri yang sedang menuntut ilmu di pesantren. Hal ini penting dilakukan karena santri adalah bagian dari generasi penerus bangsa yang memliki hak yang sama.

Baca juga  BMKG: Hujan di Jatim dalam Dua Hari Terakhir Hasil Modifikasi Cuaca, Bukan Musim Hujan

“Jadi memang harus ada perlindungan dan pengawasan yang memang dilakukan oleh Kemenag secara kontinyu terstruktur dan sistematis, membutuhkan satu koordinasi untuk memberikan perlindungan dari proses pembinaan yang dilakukan oleh pesantren pesantren yang ada di semua daerah yang ada di Indonesia” ucapnya.

Gubernur Khofifah juga hadir menyemangati agar anak-anak tumbuh dengan nilai religius dan nasionalis. Sehingga nantinya anak-anak akan menjadi generasi masa depan yang siap menjadi pemimpin bangsa.

“Anak-anak TK, KB, dan RA semua mudah-mudahan anak-anak dianugerahkan ilmu yang manfaat barokah, anak-anak yang Sholeh Sholehah, anak-anak yang bisa membawa kebanggan keluarga, daerah, Indonesia dan agama,” harapnya. (Ym)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *