Pada dasanya memuliakan hidup manusia dengan cara mencegah dari segala yang membahayakan merupakan pebuatan yang mulia.
Dalam konteks itu Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) sangat peduli terhadap pencegahan wabah Covid 19 melalui eduksi, sosialisasi dan advokasi.
ADI melakukan dialog interaktif dengan melibatkan peserta dari berbagai daerah via googel on line.
Dialog ini mengambil tema: Modal Sosial Dosen untuk Mencegah Covid 19 di Indonesia. Tampil sebagai pembicara Ketua Umum ADI Dr. Dino Pati Djalal.
“Kami menyampaikan pengargaan kepada dosen yang peduli terhadap pencegahan Covid-19 baik melalui edukasi, sosilisasi maupun advokasi agar dunia kampus dan masyarakat memahami langkah pencegahan terhadap Covid-19,” kata Dino.
Bersinergi
Dino yang juga sebagai mantan Dubes RI di AS dan Wamenlu RI mengatakan bahwa dunia global saat ini mengkhawatirkan pandemi Covid-19 menelan bannyak korban termasuk Indonesia. Untuk itu ADI akan menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah agar penanganan Covid-19 dapat bersinergi dengan semua pihak, termasuk dunia internasional, sehingga kekuatan bangsa Indonesia dapat lebih efektif dalam penanganan Covid 19.
Dalam kesempatan yang sama Sekjen ADI Amirsyah Tambunan menegaskan ada lima rekomendasi hasil dialog tersebut:
Pertama, ADI menyoroti kebijakan pemerintah yang terkesan lamban dalam mengantisipasi hingga merebaknya Covid 19 ke seluruh daerah di Indonesia.
“Untuk itu ADI menyerukan agar pemerintah lebih sirus menggunakan mesin birokrasi di seluruh Indonesia dan penggunaan anggaran 450 T, secara transparan dan akuntabel, sehingga penanganan Covid-19 lebih terukur dan penggunaan dana sesuai sasaran,” ujar Amirsyah kepada majalahnurani.com Rabu (8/4/2020).
Peduli Bantuan
Kedua, dosen sebagai peneliti berkomitmen untuk bersinergi dengan para ilmuan di berbagai negara menemukan vaksin dan Rapid test yang terjangkau, sehingga secara massal dapat digunakan dalam rangka mencegah agar masyarakat tidak terinfeksi covid-19.
Ketiga, lanjut Amirsyah, mengajak masyarakat lebih peduli memberikan bantuan kepada masyarakat yang tidak mampu, terutama ekonominya yang terkena dampak seperti ojol, pedagang kaki lima, supir Taxi, dll.
Keempat, meminta kepada pemerintah, pimpinan Yayasan, Perguruan Tinggi agar honor guru dan dosen tetap di penuhi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pokok dan melanjutkan tugas sebagai guru dan dosen dengan baik.
“Kelima, dosen sebagai insan cendikiawan harus mampu mamberikan edukasi, sosialisasi dan edvoasi kepada semua lapisan masyarakat membentuk Satgas pencegahan Covid-19 pada tingkat RT dalam bentuk pola hidup sehat (gizi dan istirahat cukup). Sehingga kehadiran dosen dirasakan manfaatnya,” pungkas Amirsyah.
Akhir sesi, Ketua Dewan Pembina ADI yang juga sekretaris Senat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Prof. Armai Arif, MA mengharapkan agar laporan Beban Kerja Dosen (BKD) selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) sistem on line pada akhir semester dapat berjalan lancar.
“Kita berharap agar dialog semacam ini dapat dilanjutkan setiap Sabtu dengan tema yang berbeda dan memperluas cakupan kepada seluruh dosen di Indonesia,” tegasnya.01/ Bagus






