Anggota DPRD Surabaya Arif Fathoni menyayangkan kebijakan Pemkot Surabaya yang menggelar pertunjukkan seni di alun alun Surabaya mulai 19-25 Agustus 2020. Akibatnya pertunjukan ini menimbulkan kerumunan warga.
IRONI
Arif menilai, potret tersebut sungguh ironi. Sebab seminggu sebelumnya, Pemkot Surabaya telah mengeluarkan edaran mengimbau warga untuk tidak menggelar malam tirakat serta perlombaan HUT RI, untuk menekan penyebaran COVID-19.
“Ini tentu ironi, karena seminggu sebelumnya Pemkot melarang warga untuk menggelar malam tirakatan, dalam rangka proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Acara tirakatan jauh lebih sakral dibandingkan peresmian alun-alun yang tampaknya seperti sebuah taman, malah menggelar pertunjukan seni,” kata Arif Fathoni, Jumat (21/8/2020).
Arif mennjelaskan, padahal warga sudah mulai mematuhi segala anjuran pemkot sesuai dengan yang diamanatkan dalam Perwali No 33.
PERSIAPAN MATANG
Namun di saat kesadaran warga meningkat, pemkot malah memberi suri tauladan yang kurang baik soal menggelar acara yang berpotensi menimbulkan kerumunan.
“Kalau hanya sekedar mengejar legacy sebelum lengser, apa tidak sebaiknya dilakukan pada akhir tahun 2020, di saat banyak pakar memprediksi virus COVID-19 melandai,” tambah Arif.
Menurutnya, kalaupun pemkot ingin memberikan hiburan kepada masyarakat Surabaya yang sudah mengalami kebosanan, protokol kesehatan harus dipersiapkan secara matang.
“Mestinya Pemkot dengan segala kekuatan APBD yang dimiliki bisa melakukannya dengan mempersiapkan dengan matang agar protokol kesehatan masih tetap terpatuhi,” tandasnya. Bagus











