by

Pakai Terapi Mandi di Sungai dan Mengaji, Ponpes Ini Sembuhkan Puluhan ODGJ

Pondok pesantren Samiti yang terletak di Dusun Ngrayung, Desa Brayung, Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto dalam sepekan ini sering dibicarakan terkait dengan Sungai Brayung yang belakangan viral menjadi wisata dadakan bagi warga Mojokerto. Sungai yang banyak dikunjungi warga Mojokerto maupun pengunjung dari luar kota tersebut sebenarnya sungai yang awalnya menjadi tempat terapi penyembuhan beberapa ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). ODGJ tersebut dirawat dan dimandikan di sungai itu oleh santri dari ponpes Samiti yang lokasinya berdekatan dengan sungai tersebut.
Pengasuh ponpes Samiti, Gus Anam Asmoro menuturkan, sungai Brayung tersebut dulunya tak terawat, banyak sampah dan ranting pohon yang teronggok di sungai tersebut. Oleh santri, sungai tersebut dibersihkan dan diatur sedemikian rupa sehingga kini nampak indah, bersih dan banyak dikunjungi warga untuk mandi di sungai tersebut.
“Jadi sungai itu awalnya bukan tempat rekreasi, tapi memandikan ODGJ, jadi saya itu dititipi salah satu jamaah yang keponakannya gila, kemudian saya mendapat seperti wangsit untuk memandikan ODGJ di sungai tersebut, setelah 7 hari berturut-turut mandi di sungai itu, ODGJ itu sembuh,” ujarnya kepada majalahnurani.com beberapa waktu lalu.

Baca juga  Polres Jombang Terima Kunjungan Tim Peneliti STIK Lemdiklat Polri

Gus Anam mengaku, selain dimandikan di sungai, ODGJ juga bimbing shalat, dibimbing mengaji.
“Kalau sudah baca alqurannya lancar, itu pasti sembuh karena daya ingatnya sudah kuat,” tuturnya.
Ponpes Samiti sendiri mulai berdiri tahun 2018. Santrinya kebanyakan berlatarbelakang anak nakal, anak punk dan beberapa ODGJ. Ponpes Samiti ini juga memiliki majlis taklim Na’mah yang rutin menggelar istighosah, pengajian setiap hari Senin dan Kamis, pembacaan Yasin Tahlilan dan Banjari. Selama ini pesantren ini sudah menyembuhkan sekitar 30 orang ODGJ.
“Alhamdulillah, sudah banyak yang sembuh, biasanya untuk ODGJ yang baru masuk kita mandikan di sungai selama tujuh hari berturut-turut,” Sambung Gus Anam.
Gus Anam mendirikan Pesantren tersebut setelah diberi amanah oleh kiai Badri, gurunya saat Ngawulo (mengabdi, red) di ponpes Poncogung, desa Mulung, kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik. Setelah lulus, Gus Anam mendirikan Tempat Pendidikan Alquran (TPQ)di Krian, Sidoarjo. Kegiatan mengaji di TPQ tersebut masih berjalan hingga kini. Namun keinginan memperluas TPQ tersebut tak tersampaikan lantaran terbatasnya lahan. Maka dirinya memilih mendirikan pesantren di Mojokerto hingga saat ini.
“Saya dulu itu, di sana (saat mondok di kyai Badri, red) itu dibimbing untuk merawat anak yatim piatu, dhuafa, dari SD sampai menikah itu gratis, saya disuruh buka pesantren sendiri, dengan bekal ilmu di pondok, dan niat ingin merawat anak yatim piatu dan dhuafa secara gratis ternyata diberi Allah kelebihan lain, yakni merawat anak nakal, anak punk dan ODGJ,” kisah Gus Anam.

Baca juga  Update Corona 13 September 2021: Corona Baru 2.577, Kematian 276 Orang

Awal menggunakan sungai sebagai terapi ODGJ disebut Gus Anam terjadi mengalir begitu saja. Dia mendapatkan semacam wangsit agar memandikan ODGJ di sungai tersebut. Dengan izin Allah, banyak ODGJ yang berhasil sembuh.
Gus Anam menjalankan kegiatan pesantren Samiti ini tanpa memungut biaya sepeserpun alias gratis. Untuk keperluan biaya kegiatan pesantren, Gus Anam menggunakan uang pribadi dan sedekah dari jamaah majlis taklim. Biasanya saat mengelar pengajian, pesantren menyediakan kotak sedekah khusus bagi jamaah yang bersedekah. Selain itu pesantren menitipkan kotak-kotak sedekah ke warung-warung di sekitarnya.
“Ada juga beberapa jamaah yang menjadi donatur, makanya setiap ada yang sembuh saya suruh pulang, karena terbentur biaya juga,” tukasnya.
Mengenai penamaan pesantren Samiti dan majlis taklim Na’imah, Gus Anam mengaku nama itu merupakan nama ibu dan neneknya. Namun bila
“Samiti itu nama nenek saya, sedangkan Na’imah nama ibu saya, saya ingin mengangkat nama kedua orangtua saya, kalau orang tanya Samiti itu punya arti sami ati-ati (sama-sama berhati-hati), sedangkan Na’imah diartikan noto ati iman marang Allah (menata Hati untuk beriman kepada Allah SWT),” ujarnya.
Ada banyak cerita yang disampaikan Gus Anam tentang pasien ODGJ yang sembuh di pesantrennya. Dirinya ingat betul pesan kiai Badri, yakni tujuan hidup itu manfaat dan memanfaati. Manfaat dalam hidupnya, dan memberikan manfaat untuk orang lain. Di balik viralnya sungai Brayung yang kini dinamakan sungai kahuripan kewarasan yang banyak dikunjungi warga tersebut, Gus Anam mengaku tidak keberatan, bahkan dia bersyukur karena berawal dari hal sepele kemudian banyak dikunjungi orang. Ym

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed